Malam Nobar yang Tak Terlupakan

PUSAT PERHATIAN

Malam itu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Setidaknya begitu pikirku ketika menerima pesan dari Salsa beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.

“Jadi NOBAR malam ini?”

Aku tersenyum membaca pesannya. Sudah beberapa minggu kami memang sering membicarakan pertandingan sepak bola, terutama karena kami sama sama mengikuti klub yang sama. Biasanya kami hanya bertukar prediksi melalui chat. Namun malam itu Salsa menawarkan untuk menonton langsung bersama di rumahku.

“Kalau lu jadi datang, gue siapin tempat,” balasku.

Tidak sampai satu jam kemudian, Salsa menjawab bahwa dia akan datang setelah makan malam.

Aku membereskan ruang tamu. Sofa yang biasanya hanya menjadi tempat duduk santai malam itu sengaja kubuat lebih nyaman. Lampu utama kumatikan dan hanya lampu sudut ruangan yang menyala. Televisi sudah menyala dengan siaran pra pertandingan. Di atas meja sudah ada minuman dingin, camilan, dan beberapa makanan ringan yang cukup untuk menemani pertandingan sampai selesai.

Sekitar lima belas menit sebelum pertandingan dimulai, terdengar suara bel.

Ketika pintu kubuka, Salsa berdiri di depan rumah dengan senyum kecil. Dia mengenakan pakaian santai yang terlihat sederhana, tetapi entah kenapa malam itu aku merasa penampilannya berbeda.

“Masuk,” kataku.

“Telat nggak?”

“Belum. Lima menit lagi mulai.”

Salsa melepas sepatunya kemudian masuk ke ruang tamu. Dia langsung melihat televisi dan tertawa kecil ketika melihat suasana yang sudah kusiapkan.

“Serius banget persiapannya.”

“Namanya juga pertandingan penting.”

“Alasan.”

Kami kemudian duduk di sofa. Awalnya ada jarak yang cukup di antara kami. Salsa sibuk mengambil camilan sementara aku masih memperhatikan layar televisi.

Peluit pertama terdengar.

Pertandingan dimulai.

Beberapa menit pertama berjalan biasa saja. Kami sibuk berkomentar tentang permainan kedua tim. Sesekali Salsa tertawa karena komentarku yang menurutnya terlalu berlebihan.

Ketika tim yang kami dukung hampir mencetak gol, Salsa spontan berdiri dari sofa.

“WOI!”

Aku ikut berdiri.

“Gila! Hampir!”

Kami tertawa bersamaan sebelum akhirnya kembali duduk.

Tanpa kusadari, posisi duduk kami sudah sedikit lebih dekat daripada sebelumnya.

Babak pertama terus berjalan. Suasana semakin santai. Kami mulai lebih banyak berbicara daripada memperhatikan pertandingan.

Salsa bercerita tentang pekerjaannya, tentang teman temannya, dan tentang beberapa hal yang belakangan membuatnya cukup stres. Aku mendengarkan sambil sesekali memberikan komentar.

“Lu kalau cerita ternyata cerewet juga,” kataku.

Salsa langsung menoleh.

“Baru tahu?”

“Selama ini lu lebih banyak diem.”

“Karena biasanya nggak ada yang nanya.”

Jawaban itu membuatku diam sebentar.

Aku menatapnya.

Salsa juga menatapku.

Ada jeda singkat yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Kemudian dia tersenyum kecil dan kembali melihat televisi.

Aku mencoba melakukan hal yang sama, tetapi pikiranku sudah tidak sepenuhnya berada di pertandingan.

Babak pertama selesai.

Aku berdiri mengambil minuman dari meja.

“Tambah?”

Salsa mengangguk.

Ketika aku kembali duduk, kali ini dia tidak mengambil posisi sejauh sebelumnya. Bahunya hampir menyentuh lenganku.

“Dingin?” tanyaku.

“Sedikit.”

Aku mengambil selimut tipis yang berada di sisi sofa dan memberikannya kepadanya.

Salsa justru menarik selimut itu sedikit lebih lebar sehingga sebagian menutupi kedua kaki kami.

“Biar nggak rebutan,” katanya.

Aku tertawa.

“Lu emang ada aja.”

“Diam.”

Kami kembali menonton.

Beberapa menit kemudian Salsa menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Awalnya aku mengira dia hanya bercanda.

Namun dia tetap berada di sana.

Aku tidak mengatakan apa apa.

Suasana ruang tamu menjadi semakin tenang. Suara komentator dari televisi terdengar samar, sementara perhatian kami perlahan beralih dari pertandingan kepada keberadaan satu sama lain.

“Nyaman?” tanyaku pelan.

“Lumayan.”

“Lumayan doang?”

“Jangan banyak protes.”

Aku tertawa kecil.

Tanganku yang sebelumnya berada di atas sofa perlahan turun. Jari kami tanpa sengaja bersentuhan.

Salsa tidak menjauh.

Sebaliknya, dia membiarkan tangannya tetap berada di sana.

Aku menoleh.

Dia juga menoleh.

Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang.

Tidak ada kalimat yang perlu dijelaskan.

Salsa tersenyum tipis.

Aku mendekat sedikit.

Dia tidak mundur.

Malam yang awalnya hanya direncanakan sebagai acara nobar tiba tiba terasa berbeda.

Kami kembali saling mendekat dan berbagi momen yang jauh lebih personal daripada sekadar teman yang sedang menonton pertandingan.

Ketika peluit panjang babak kedua terdengar, kami bahkan hampir tidak sadar bahwa pertandingan sudah selesai.

Salsa mengangkat kepala dari bahuku.

“Menang?”

Aku tertawa.

“Lu nanya sekarang?”

“Iya.”

“Menang.”

“Pantes lu senyum.”

Aku memandangnya beberapa saat.

“Bukan karena itu.”

Salsa terdiam.

Kemudian dia tersenyum kecil.

Aku berdiri dan mulai membereskan meja. Salsa ikut membantu mengambil gelas dan bungkus makanan.

Ketika kami selesai, suasana ruang tamu kembali sunyi.

Salsa berdiri di dekat sofa.

“Gue pulang sekarang?”

Aku tidak langsung menjawab.

Dia menatapku seolah menunggu jawaban.

“Kalau belum terlalu malam, santai dulu.”

Salsa mengangguk.

Kami berjalan menuju kamar untuk mengambil sesuatu yang tadi sempat tertinggal di sana. Namun percakapan yang tadinya ringan kembali berubah menjadi lebih personal.

Kami berbicara tentang hubungan, tentang kesepian, tentang bagaimana dua orang bisa begitu dekat tanpa pernah benar benar membicarakan apa yang mereka rasakan.

Malam itu kami akhirnya berhenti menyembunyikan perasaan yang selama ini hanya dianggap sebagai candaan.

Pintu kamar tertutup.

Lampu kamar dibuat redup.

Percakapan kami berlanjut dalam suasana yang jauh lebih tenang. Ada tawa kecil, ada tatapan yang sulit diartikan, dan ada keheningan yang justru mengatakan lebih banyak daripada kata kata.

Apa yang terjadi setelah itu menjadi bagian dari malam yang hanya kami berdua yang tahu.

Tidak ada lagi suara pertandingan.

Tidak ada lagi sorakan dari ruang tamu.

Yang tersisa hanyalah suasana malam yang perlahan semakin sunyi.

Beberapa waktu kemudian, kami kembali berbicara dengan suasana yang berbeda.

Salsa duduk di sisi tempat tidur sambil merapikan rambutnya.

“Gila,” katanya sambil tertawa kecil.

Aku ikut tertawa.

“Kenapa?”

“Awalnya cuma mau nobar.”

“Memang dari awal gue bilang nobar.”

“Ya, tapi bukan begini.”

Aku tersenyum.

“Berarti nobarnya sukses?”

Salsa melempar bantal kecil ke arahku.

“Jangan geer.”

Aku menangkap bantal itu sambil tertawa.

Pagi menjelang ketika kami akhirnya kembali ke ruang tamu. Televisi masih menyala dengan tayangan ulang pertandingan semalam.

Salsa mengambil minuman yang tersisa.

“Kalau tiap nobar begini, bahaya.”

“Kenapa?”

“Bisa lupa nonton bolanya.”

Aku tertawa.

“Berarti pertandingan berikutnya jangan datang.”

Dia menatapku sambil tersenyum.

“Siapa bilang?”

Kami sama sama tertawa.

Sejak malam itu, istilah nobar bagi kami tidak lagi sekadar menonton pertandingan sepak bola bersama. Ada cerita lain yang ikut melekat di dalamnya.

Beberapa hari kemudian, ketika kami kembali membicarakan pertandingan berikutnya, Salsa bertanya apakah aku tahu tempat yang menyediakan informasi pertandingan sekaligus pilihan game online.

Aku langsung teringat sebuah nama.

“Coba lihat PUSAT4D.”

“Yang ada game online itu?”

“Iya. Biasanya sekalian gue lihat informasi pertandingan sebelum nobar.”

Salsa membuka ponselnya dan mencari informasinya.

“Inikan link nya ? https://gotaya-commitent.github.io/pusatgames/ . Lumayan juga.”

Aku mengangguk.

“Makanya. Kalau mau cari referensi pertandingan atau sekadar lihat pilihan game online, bisa sekalian.”

Salsa tersenyum.

“Berarti pertandingan berikutnya tetap nobar?”

Aku menatapnya.

“Kalau lu datang, gue siapin sofa lagi.”

Dia tertawa.

“Jangan cuma siapin sofanya.”

Aku ikut tertawa.

Dan sejak saat itu, setiap kali ada pertandingan besar, kami selalu punya satu alasan untuk bertemu lagi.

Bukan hanya karena sepak bola.

Bukan hanya karena suasana nobar.

Tetapi karena ada sebuah malam yang membuat kami sadar bahwa terkadang sebuah pertandingan yang awalnya terlihat biasa saja bisa menjadi awal dari cerita yang sama sekali tidak pernah direncanakan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *