DIBALIK LEMBUR YANG TERLALU LARUT

Raka sudah menikah hampir lima tahun.

Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja. Ia punya pekerjaan tetap, rumah kecil di pinggir kota, dan seorang istri bernama Nadia yang selalu menunggunya pulang. Tetapi beberapa bulan terakhir, hubungan mereka terasa seperti rutinitas yang terus diulang.

Bangun pagi. Bekerja. Pulang. Makan malam. Tidur.

Tidak ada pertengkaran besar. Justru itu masalahnya. Semuanya terasa terlalu tenang.

Sampai kemudian datang Alya.

Alya sebenarnya bukan orang baru. Mereka sudah bekerja di perusahaan yang sama selama hampir dua tahun, hanya saja sebelumnya berbeda divisi. Setelah restrukturisasi kantor, meja Alya dipindahkan tepat ke seberang meja Raka.

Awalnya, hubungan mereka biasa saja.

“Mas Raka, laporan yang kemarin sudah dicek?”

“Belum. Lima menit lagi.”

Lima menit versi Mas Raka atau lima menit versi manusia normal?”

Raka tertawa.

Entah sejak kapan, percakapan kecil semacam itu mulai menjadi bagian yang paling ia tunggu setiap hari.

Alya berbeda dari Nadia. Bukan lebih baik, hanya berbeda.

Alya spontan, cerewet, suka tertawa keras, dan hampir selalu bisa membuat suasana kantor yang penuh tekanan terasa lebih ringan. Sedangkan Raka adalah tipe laki-laki yang biasanya serius dan menjaga jarak.

Namun perlahan, jarak itu menghilang.

Mereka mulai makan siang bersama.

Kemudian minum kopi bersama.

Lalu saling mengirim pesan setelah jam kantor.

Awalnya hanya urusan pekerjaan.

“Besok meeting jam sembilan, jangan telat.”

Berubah menjadi:

“Sudah sampai rumah?”

Dan akhirnya:

“Kamu belum tidur?”

Raka tahu batas itu mulai bergeser.

Yang membuat semuanya semakin berbahaya adalah Alya juga sudah memiliki pasangan.

Suatu malam, kantor hampir kosong karena mereka berdua harus menyelesaikan presentasi untuk klien besar.

Jam menunjukkan hampir pukul sebelas.

Hujan turun deras di luar gedung. Lampu sebagian ruangan kantor sudah dimatikan, menyisakan cahaya dari beberapa meja.

Alya bersandar di kursinya.

“Aku capek.”

Raka menatap layar laptop.

“Lima slide lagi.”

“Aku serius. Aku capek sama semuanya.”

Nada suara Alya membuat Raka berhenti mengetik.

“Kantor?”

Alya menggeleng pelan.

“Hubungan aku.”

Untuk pertama kalinya malam itu, mereka tidak membicarakan pekerjaan.

Alya bercerita panjang. Tentang pacarnya yang semakin sibuk, tentang komunikasi yang semakin dingin, tentang perasaan tidak dianggap.

Raka hanya mendengarkan.

Sampai akhirnya Alya balik bertanya.

“Kalau kamu sama Nadia gimana?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Raka terdiam.

“Baik.”

Alya tersenyum tipis.

“Itu jawaban orang yang sebenarnya nggak baik.”

Raka tertawa kecil.

Namun kali ini tawanya terasa pahit.

Malam itu, Raka akhirnya bercerita juga.

Tentang rumah yang terasa semakin sepi meski selalu ada dua orang di dalamnya.

Tentang percakapan yang semakin pendek.

Tentang bagaimana ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia dan Nadia pergi keluar hanya untuk menikmati waktu berdua.

Setelah itu, keheningan datang.

Alya menatap Raka cukup lama.

“Kita ini dua orang bermasalah, ya?”

“Mungkin.”

“Bahaya kalau terlalu sering bareng.”

Raka mencoba bercanda.

“Kenapa?”

Alya menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya.

“Karena aku nyaman sama kamu.”

Kalimat itu seperti mengubah udara di ruangan.

Raka tidak menjawab.

Ia tahu seharusnya ia mengambil tasnya dan pulang.

Namun ia tetap duduk di sana.

Beberapa detik kemudian, Alya berdiri untuk mengambil dokumen di meja Raka.

Jarak mereka menjadi sangat dekat.

Terlalu dekat.

Raka bisa mencium aroma parfumnya.

Alya berhenti bergerak.

“Kita sebaiknya pulang,” katanya pelan.

“Iya.”

Tetapi tidak ada satu pun yang bergerak.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Raka benar-benar sadar bahwa semua pesan, makan siang, kopi, dan percakapan larut malam selama ini sudah membawa mereka ke titik tersebut.

Alya berbisik.

“Kalau kita melewati batas malam ini, semuanya bakal berubah.”

Raka menarik napas panjang.

“Aku tahu.”

Namun justru karena mereka tahu, ketegangan di antara mereka terasa semakin berat.

Beberapa saat kemudian, batas yang selama ini mereka jaga akhirnya runtuh.

Tidak ada pernyataan cinta.

Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang sedang merasa kesepian, mencari kehangatan dari orang yang seharusnya tidak mereka dekati.

Ketika mereka akhirnya keluar dari kantor, hujan sudah mulai reda.

Raka mengantar Alya sampai mobilnya.

Sebelum masuk, Alya menatapnya.

“Besok kita gimana?”

Raka tidak punya jawaban.


Keesokan paginya, kantor terasa seperti biasa.

Suara mesin kopi.

Telepon berdering.

Orang-orang membicarakan deadline.

Alya datang pukul delapan lewat dua puluh.

Ia berjalan melewati meja Raka tanpa menyapanya.

Raka mencoba fokus pada layar.

Namun lima menit kemudian, notifikasi muncul di ponselnya.

Alya:

“Jangan lihat aku terus.”

Raka mengetik:

“Aku nggak lihat.”

Balasan datang cepat.

“Bohong.”

Tanpa sadar Raka tersenyum.

Dan dari seberang meja, Alya juga tersenyum kecil.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin rumit.

Mereka sepakat bahwa kejadian malam itu tidak boleh terulang.

Tetapi justru setelah melewati batas sekali, menjaga jarak terasa jauh lebih sulit.

Makan siang yang tadinya dilakukan bersama mulai mereka hindari.

Namun pesan malam menjadi semakin sering.

Kadang Raka menghapus seluruh percakapan sebelum tidur.

Kadang ia menatap nama Alya di layar selama beberapa menit sebelum akhirnya membalas.

Di rumah, Nadia mulai menyadari perubahan kecil.

“Kamu akhir-akhir ini sering senyum lihat HP.”

Raka spontan mematikan layar.

“Grup kantor.”

Nadia mengangguk.

Ia percaya.

Dan justru kepercayaan itu membuat dada Raka terasa semakin berat.

Suatu malam, Nadia tidur lebih dulu.

Raka berada di ruang tamu ketika pesan dari Alya muncul.

“Aku kangen.”

Dua kata.

Hanya dua kata.

Namun Raka menatapnya selama hampir sepuluh menit.

Kemudian ia mengetik.

“Aku juga.”

Saat itulah Raka sadar bahwa masalah mereka bukan lagi sebuah kesalahan satu malam.

Ia mulai memiliki perasaan.


Beberapa minggu kemudian, Alya meminta bertemu setelah kantor.

Mereka duduk di dalam sebuah kedai kopi kecil yang cukup jauh dari kantor.

Alya terlihat berbeda.

Lebih serius.

“Kita harus berhenti.”

Raka sudah menduga kalimat itu akan datang.

“Kenapa sekarang?”

Alya tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Karena aku mulai berharap.”

Raka diam.

“Aku mulai nunggu chat kamu. Mulai cemburu kalau kamu cerita soal Nadia. Bahkan kadang aku berharap kamu bertengkar sama dia.”

Alya menunduk.

“Aku benci jadi orang seperti itu.”

Raka menggenggam gelas kopinya.

“Aku juga nggak tahu harus gimana.”

“Pulang ke istri kamu.”

Kalimat Alya terdengar sederhana.

Tetapi menyakitkan.

“Kamu?”

“Aku juga akan memperbaiki hidupku.”

Raka menatapnya lama.

“Kalau aku bilang aku nggak mau kehilangan kamu?”

Alya tersenyum sedih.

“Kita mungkin memang harus kehilangan sesuatu supaya sadar apa yang selama ini kita rusak.”

Tidak ada pelukan ketika mereka berpisah.

Tidak ada ciuman.

Hanya tatapan panjang antara dua orang yang tahu bahwa perasaan mereka nyata, tetapi cara mereka memulainya salah.


Beberapa bulan kemudian, Alya pindah ke perusahaan lain.

Tidak ada drama besar.

Tidak ada orang kantor yang pernah tahu.

Pada hari terakhir Alya, ia berdiri di depan meja Raka sambil membawa sebuah kotak kecil berisi barang-barangnya.

“Makasih sudah jadi teman kerja paling menyebalkan.”

Raka tersenyum.

“Makasih sudah selalu telat lima menit.”

Alya tertawa.

Lalu hening.

Ada begitu banyak hal yang ingin mereka katakan.

Namun akhirnya Alya hanya mengulurkan tangan.

Raka menjabatnya.

“Jaga diri,” kata Alya.

“Kamu juga.”

Alya berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi.

Raka memperhatikan sampai pintu lift tertutup.

Malam itu, ketika pulang, Nadia sedang memasak di dapur.

Raka berdiri beberapa saat melihat istrinya.

“Kenapa?” tanya Nadia.

Raka mendekat.

“Nggak apa-apa.”

Kemudian ia memeluk Nadia dari belakang.

Nadia tertawa kecil.

“Tumben.”

Raka memejamkan mata.

Ia tahu memperbaiki hubungan tidak akan semudah sebuah pelukan.

Ada banyak hal dalam dirinya yang harus ia hadapi.

Banyak kesalahan yang tidak bisa dianggap tidak pernah terjadi.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka memutuskan untuk berhenti melarikan diri dari hidup yang sebenarnya ia pilih.

Dan di tempat lain, Alya mungkin sedang melakukan hal yang sama.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *