Sunyi di Antara Rak Buku

Ini cerita pengalaman ku dengan ibu guru di perpustakaan

Bu Maya sudah hampir tujuh tahun mengajar Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta. Usianya tiga puluh lima tahun, selalu tampil rapi dengan kemeja, rok panjang, dan rambut yang biasanya diikat sederhana.

Di sekolah, ia dikenal tegas.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa beberapa bulan terakhir rumah tangganya sedang terasa dingin.

Suaminya semakin sering pulang malam, percakapan mereka hanya berputar pada tagihan, pekerjaan, dan rutinitas. Maya mencoba menganggap semuanya biasa saja.

Sampai Pak Arga mulai sering datang ke perpustakaan.

Arga adalah guru baru di sekolah itu. Usianya tiga puluh dua tahun, mengajar sejarah. Mereka awalnya hanya saling menyapa ketika bertemu di ruang guru.

“Bu Maya, buku referensi sastra ada di mana?”

Rak belakang. Bagian paling kanan.”

Itu saja.

Namun karena keduanya sering mendapat jadwal piket sore, mereka mulai beberapa kali pulang paling akhir.

Suatu hari hujan turun sangat deras.

Hampir seluruh guru dan murid sudah meninggalkan sekolah.

Maya masih berada di perpustakaan, menyusun beberapa buku yang dikembalikan siswa. Saat sedang berdiri di depan rak tinggi, sebuah suara terdengar dari belakang.

“Belum pulang, Bu?”

Maya menoleh.

Arga berdiri sambil membawa dua gelas kopi.

“Ini buat saya?”

“Kalau Ibu nggak mau, saya minum dua.”

Maya tersenyum.

“Ya sudah, sini.”

Mereka duduk di meja panjang dekat jendela.

Suara hujan menjadi satu-satunya suara di ruangan.

Percakapan mereka awalnya biasa.

Tentang siswa.

Tentang tugas.

Tentang kepala sekolah yang terlalu banyak memberi rapat.

Sampai Arga bertanya sesuatu yang membuat Maya diam.

“Ibu kelihatan capek akhir-akhir ini.”

Maya menatap kopinya.

“Memang kelihatan?”

“Sedikit.”

Maya tersenyum hambar.

“Kadang orang bisa capek bukan karena pekerjaan.”

Arga tidak memaksa.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya Maya bercerita tentang rumah tangganya.

Tidak semuanya.

Hanya cukup untuk membuat seseorang memahami bahwa ia sedang merasa sendirian.

Arga mendengarkan tanpa menyela.

Dan justru karena itulah Maya merasa nyaman.

Hari-hari berikutnya, perpustakaan mulai menjadi tempat mereka sering bertemu.

Kadang lima belas menit.

Kadang satu jam.

Mereka berbicara tentang buku, kehidupan, mimpi yang dulu pernah mereka punya.

Perlahan, Maya mulai menunggu sore.

Menunggu suara langkah Arga memasuki perpustakaan.

Suatu sore, Maya sedang mencari sebuah buku di rak paling belakang.

Arga berdiri di sisi lain rak.

“Yang ini?”

Ia mengangkat sebuah novel.

Maya mendekat.

“Bukan. Yang sampul hitam.”

Mereka mencari bersama.

Sampai tangan mereka tidak sengaja menyentuh buku yang sama.

Keduanya berhenti.

Maya menarik tangannya.

“Maaf.”

Arga tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa.”

Namun tidak ada satu pun dari mereka langsung bergerak.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Maya bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Arga menatapnya.

“Bu Maya…”

“Jangan.”

Arga langsung mundur.

Maya menunduk.

“Aku bukan bilang kamu salah.”

Untuk pertama kalinya ia tidak menggunakan kata saya.

Arga kembali menatapnya.

“Terus?”

Maya menarik napas panjang.

“Karena kalau kamu lebih dekat lagi… mungkin aku yang salah.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Di luar, langit mulai gelap.

Arga seharusnya pergi.

Maya juga seharusnya mengambil tasnya dan pulang.

Namun keduanya tetap berdiri di antara rak-rak buku itu.

Arga akhirnya berkata pelan.

“Aku suka sama kamu.”

Maya memejamkan mata sebentar.

“Jangan bilang begitu.”

“Kenapa?”

“Karena aku senang dengarnya.”

Kalimat itu mengubah segalanya.

Arga mendekat perlahan.

Maya tidak mundur.

Ketika wajah mereka hanya berjarak sedikit, Maya berbisik,

“Kita seharusnya berhenti.”

Arga menjawab,

“Iya.”

Namun malam itu, untuk beberapa saat, keduanya memilih melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Lampu perpustakaan tetap menyala.

Hujan terus turun.

Dan di antara rak-rak buku yang sunyi, sebuah hubungan yang seharusnya tidak pernah dimulai akhirnya melewati batas pertamanya.


Keesokan paginya mereka bertemu di ruang guru.

Tidak ada sapaan khusus.

Tidak ada senyuman.

Arga hanya lewat di belakang meja Maya seperti biasa.

Namun beberapa menit kemudian, ponsel Maya bergetar.

Pesan dari Arga.

“Aku masih kepikiran kemarin.”

Maya membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian mengetik:

“Kita jangan ulangi.”

Balasan datang beberapa detik kemudian.

“Kalau ketemu lagi di perpustakaan?”

Maya menatap layar cukup lama.

Lalu tersenyum kecil.

Ia tidak membalas.

Tetapi sore itu, ketika semua orang mulai pulang, Maya tetap berada di perpustakaan lebih lama dari biasanya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *