“Kisah asmara dengan wali kelas di perpustakaan bermula dari pertemuan tak terduga setelah bertahun-tahun berpisah. Simak cerita romantisnya.”
PUSAT TOPMARKOTOP – Hujan turun cukup deras sore itu ketika Arga memutuskan berteduh di sebuah perpustakaan lama di tengah kota. Sudah hampir lima tahun sejak ia meninggalkan bangku sekolah. Kini, di usia 23 tahun, kehidupannya jauh berbeda.
Arga sudah bekerja, memiliki kesibukan sendiri, dan hampir tidak pernah memikirkan masa sekolahnya.
Namun, semuanya berubah ketika ia melihat seseorang yang sangat familiar berdiri di antara rak-rak buku.
Perempuan itu sedang mengambil sebuah novel dari rak bagian atas.
Arga langsung mengenalinya.
Itu adalah Bu Maya, mantan wali kelasnya semasa SMA.
Pertemuan Tak Terduga di Perpustakaan
“Bu Maya?”
Perempuan itu menoleh.
Beberapa detik ia terlihat mencoba mengingat wajah Arga. Kemudian senyumnya perlahan muncul.
“Arga?”
Arga tertawa kecil.
“Ternyata Ibu masih ingat.”
“Tentu saja ingat. Kamu dulu salah satu murid yang paling sering terlambat masuk kelas.”
Mereka berdua tertawa.
Suasana yang awalnya terasa canggung perlahan menjadi lebih santai.
Bu Maya masih terlihat hampir sama seperti yang Arga ingat. Hanya saja kini penampilannya terasa lebih sederhana. Tidak ada seragam guru ataupun tumpukan buku pelajaran di tangannya.
Hari itu, ia hanya mengenakan pakaian kasual sambil membawa dua novel.
Untuk pertama kalinya, Arga melihatnya bukan sebagai seorang guru.
Melainkan sebagai seseorang yang memiliki kehidupan di luar sekolah.
Obrolan yang Membuka Kenangan Lama
Hujan di luar perpustakaan belum berhenti.
Karena tidak terburu-buru pulang, mereka memutuskan duduk di salah satu meja baca.
Awalnya percakapan mereka hanya membahas teman-teman sekolah.
Bu Maya bertanya tentang pekerjaan Arga, sementara Arga menanyakan kabar sekolah lama mereka.
Namun semakin lama, percakapan tersebut mulai berubah.
Mereka membicarakan buku.
Film.
Pekerjaan.
Perjalanan hidup.
Bahkan mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan.
Arga baru menyadari bahwa mereka ternyata memiliki banyak kesamaan.
Keduanya menyukai novel misteri.
Keduanya lebih memilih tempat tenang daripada pusat perbelanjaan yang ramai.
Dan keduanya memiliki kebiasaan membaca ketika sedang merasa lelah menghadapi pekerjaan.
Percakapan sore itu terasa begitu cepat berlalu.
Ketika hujan akhirnya berhenti, jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
Pertemuan Kedua yang Tidak Lagi Kebetulan
Seminggu kemudian Arga kembali datang ke perpustakaan yang sama.
Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia ingin mencari buku.
Namun jauh di dalam pikirannya, Arga tahu ada alasan lain.
Ia berharap bertemu Bu Maya lagi.
Dan ternyata harapan tersebut menjadi kenyataan.
Bu Maya sedang duduk di meja yang sama seperti minggu sebelumnya.
Ketika melihat Arga datang, ia tersenyum.
“Kebetulan sekali.”
Arga duduk di kursi seberangnya.
“Kalau dua kali masih disebut kebetulan?”
Bu Maya tertawa kecil.
Sejak hari itu, perpustakaan menjadi tempat pertemuan mereka.
Kadang mereka hanya membaca.
Kadang mereka berbicara selama berjam-jam.
Tidak ada janji khusus.
Namun keduanya mulai memahami bahwa mereka menikmati waktu tersebut.
Ketika Perasaan Mulai Berubah
Arga menyadari perasaannya terlebih dahulu.
Setiap kali hendak datang ke perpustakaan, ia mulai memperhatikan penampilannya.
Setiap kali menerima pesan dari Bu Maya mengenai rekomendasi buku, tanpa sadar ia tersenyum.
Namun ia juga memahami bahwa situasi tersebut tidak sederhana.
Bagaimanapun juga, Bu Maya pernah menjadi wali kelasnya.
Karena itu Arga tidak pernah terburu-buru mengatakan apa pun.
Sampai suatu sore, Bu Maya membuka percakapan yang berbeda.
“Kamu kelihatannya selalu datang hari Sabtu.”
Arga tersenyum.
“Ibu juga.”
Bu Maya menutup buku yang sedang dibacanya.
“Sekarang jangan panggil saya Ibu terus.”
Arga terdiam sebentar.
“Terus panggil apa?”
“Maya saja.”
Kalimat sederhana itu membuat suasana terasa berbeda.
Ada batas lama yang perlahan menghilang.
Mereka bukan lagi guru dan murid.
Mereka adalah dua orang dewasa yang kembali bertemu setelah menjalani kehidupan masing-masing.
Sebuah Pengakuan di Antara Rak Buku
Beberapa minggu kemudian mereka berjalan bersama menuju bagian belakang perpustakaan.
Tempat itu jauh lebih sepi dibanding bagian depan.
Maya mencari sebuah novel lama yang direkomendasikan Arga.
Setelah menemukannya, ia berdiri sambil memegang buku tersebut.
“Kamu tahu tidak,” katanya.
“Apa?”
“Saya sebenarnya mulai suka datang ke sini bukan karena bukunya.”
Arga menatapnya.
“Terus karena apa?”
Maya tersenyum kecil.
“Karena biasanya kamu ada di sini.”
Untuk beberapa detik Arga tidak menjawab.
Jantungnya terasa berdegup lebih cepat.
Ia kemudian tersenyum.
“Berarti alasan kita sama.”
Maya menundukkan wajah sambil tertawa kecil.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada musik seperti di dalam film.
Hanya dua orang yang berdiri di antara rak buku tua sambil menyadari bahwa perasaan mereka ternyata sama.
Hubungan yang Dimulai Perlahan
Arga dan Maya tidak langsung menyebut hubungan mereka sebagai sebuah hubungan asmara.
Mereka memilih mengenal satu sama lain lebih jauh.
Mereka mulai pergi makan malam.
Mengunjungi toko buku.
Menonton film.
Dan sesekali kembali ke perpustakaan tempat mereka pertama kali bertemu kembali.
Bagi Arga, hubungan tersebut terasa berbeda.
Ia mengenal Maya bukan lagi sebagai wali kelas yang pernah berdiri di depan papan tulis.
Ia mengenalnya sebagai seseorang yang suka membaca sebelum tidur, mudah tertawa ketika mendengar lelucon sederhana, dan selalu memesan kopi tanpa gula.
Sementara bagi Maya, Arga bukan lagi murid yang sering datang terlambat.
Ia adalah seorang pria dewasa yang memiliki pekerjaan, tanggung jawab, serta rencana hidupnya sendiri.
Perpustakaan yang Menjadi Awal Segalanya
Beberapa bulan kemudian mereka kembali duduk di meja pertama tempat mereka berbicara setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Maya melihat sekeliling.
“Lucu juga.”
“Apa?”
“Kalau waktu itu tidak hujan, mungkin kita tidak akan bertemu.”
Arga mengangguk.
“Mungkin.”
Kemudian ia melihat rak buku di depan mereka.
“Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin memang ada beberapa cerita yang harus dimulai di tempat yang tidak kita rencanakan.”
Maya tersenyum.
Dan sejak saat itu, perpustakaan tersebut bukan hanya tempat untuk membaca bagi mereka.
Tempat itu menjadi saksi sebuah pertemuan kedua.
Pertemuan antara dua orang yang pernah mengenal satu sama lain sebagai guru dan murid, lalu bertahun-tahun kemudian kembali bertemu sebagai dua orang dewasa.
Kadang kisah cinta memang tidak selalu dimulai dari perkenalan pertama.
Ada kisah yang justru dimulai ketika dua orang dipertemukan kembali pada waktu yang lebih tepat.
