Nadia tidak pernah menyangka perjalanan dinas singkat itu akan membawanya kembali ke kota yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.
Di usia tiga puluh empat tahun, hidupnya terlihat sempurna dari luar.
Ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di sebuah kantor pemerintahan daerah. Suaminya bekerja di kota lain dan hanya pulang setiap beberapa minggu. Pernikahan mereka tidak buruk, tetapi beberapa tahun terakhir terasa semakin datar.
Pekerjaan.
Rumah.
Telepon singkat.
Lalu kembali bekerja.
Hari itu, Nadia datang ke kota kecil tempat ia pernah kuliah untuk menghadiri kegiatan kantor selama dua hari.
Masalah muncul malam pertama.
Hotel tempat rombongannya menginap mengalami gangguan listrik dan beberapa kamar tidak dapat digunakan.
Teman-temannya mencari penginapan lain.
Nadia membuka ponselnya.
Dan entah bagaimana, ia berhenti pada satu nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia hubungi.
Raka.
Mantan kekasihnya.
Pria yang hampir ia nikahi sebelum akhirnya mereka berpisah karena pilihan hidup yang berbeda.
Nadia menatap layar cukup lama.
Kemudian mengetik.
Kamu masih tinggal di rumah yang dulu?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Masih. Kenapa?
Nadia ragu.
Lalu menjelaskan keadaan.
Raka menjawab singkat.
Kalau cuma butuh tempat menginap semalam, datang saja. Kamar tamu kosong.
Nadia menggigit bibir.
Seharusnya ia mencari hotel lain.
Namun hujan mulai turun deras.
Dan rumah Raka hanya berjarak sekitar sepuluh menit.
Akhirnya ia pergi.
Rumah itu hampir tidak berubah.
Pagar putih.
Pohon mangga di halaman.
Lampu teras berwarna kuning.
Ketika pintu terbuka, Nadia langsung melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Raka.
Usianya sekarang tiga puluh enam tahun.
Rambutnya sedikit lebih pendek.
Tubuhnya lebih berisi dibanding masa kuliah.
Namun senyumnya masih sama.
“Kamu benar-benar datang,” katanya.
Nadia tersenyum canggung.
“Darurat.”
“Masuk.”
Raka mengambil koper kecil dari tangannya.
Saat jari mereka bersentuhan tanpa sengaja, keduanya langsung terdiam.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat Nadia mengingat terlalu banyak hal.
Raka membawa koper itu menuju kamar tamu.
“Handuk ada di lemari. Kalau lapar, aku belum makan.”
Nadia mengangguk.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu formal.”
Raka tersenyum.
“Dulu kamu bahkan masuk rumah ini tanpa mengetuk.”
Nadia tertawa kecil.
“Itu dulu.”
“Iya.”
Raka memandangnya.
“Dulu.”
Kata itu menggantung cukup lama di antara mereka.
Setelah mandi, Nadia keluar mengenakan pakaian santai yang ia bawa.
Raka sedang memasak mi goreng di dapur.
“Masih bisa masak?” tanya Nadia.
“Lebih baik daripada dulu.”
“Dulu kamu bahkan pernah gosong bikin telur.”
Raka tertawa.
“Masih ingat?”
Nadia duduk di kursi dapur.
“Aneh ya.”
“Apa?”
“Hal kecil begitu masih ingat.”
Raka berhenti mengaduk makanan.
Kemudian menatapnya.
“Ada beberapa hal yang susah dilupakan.”
Nadia tidak menjawab.
Mereka makan di meja kecil dekat jendela.
Percakapan yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi nostalgia.
Tentang kampus.
Tentang teman-teman lama.
Tentang tempat pertama mereka bertemu.
Sampai akhirnya Raka bertanya sesuatu yang membuat Nadia terdiam.
“Kamu bahagia?”
Nadia memainkan sendoknya.
“Kenapa tanya begitu?”
“Cuma penasaran.”
Nadia tersenyum kecil.
“Harusnya iya.”
Raka mengangkat alis.
“Harusnya?”
Nadia tidak menjawab.
Hujan terdengar semakin keras di luar.
Raka tidak memaksanya.
Namun Nadia justru berkata,
“Kadang pernikahan tidak seperti yang kita bayangkan.”
Raka menyandarkan tubuh.
“Semua hubungan begitu.”
“Kamu sendiri?”
“Aku?”
Raka tertawa kecil.
“Belum menikah.”
Nadia menatapnya.
“Kenapa?”
“Belum menemukan orang yang membuat aku yakin.”
Nadia bercanda,
“Standar kamu terlalu tinggi.”
Raka tersenyum.
“Atau mungkin aku pernah menemukan orangnya, tapi kehilangan.”
Senyum Nadia perlahan menghilang.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada lagi suara selain hujan.
Malam semakin larut.
Mereka berpindah ke ruang tamu.
Nadia duduk di sofa sementara Raka membuka album foto lama dari sebuah lemari.
“Serius kamu masih simpan ini?”
“Tidak sengaja.”
“Bohong.”
Raka tertawa.
Dalam album itu terdapat beberapa foto masa kuliah.
Salah satunya memperlihatkan Nadia dan Raka duduk berdampingan di pinggir pantai.
Nadia memandangnya lama.
“Aku kurus sekali.”
“Dan galak.”
Nadia memukul lengannya pelan.
Raka tertawa.
Namun tangan Nadia tidak segera menjauh.
Keduanya menyadarinya.
Nadia perlahan menarik tangannya.
Raka menutup album.
“Sudah malam.”
“Iya.”
Namun tidak ada yang berdiri.
Jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
Nadia bisa mencium aroma parfum Raka.
Aroma yang anehnya masih terasa familiar.
“Nad.”
“Iya?”
Raka menatapnya.
“Kalau dulu kita tidak berpisah…”
“Jangan.”
Raka berhenti.
Nadia menarik napas.
“Jangan tanya pertanyaan yang jawabannya mungkin bikin kita menyesal.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Nadia berdiri.
Namun ketika berbalik menuju kamar, Raka memanggilnya.
“Nadia.”
Ia menoleh.
“Aku senang bisa ketemu kamu lagi.”
Nadia tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Beberapa jam kemudian Nadia masih belum tidur.
Hujan belum berhenti.
Ia keluar kamar untuk mengambil air.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Raka ternyata juga belum tidur.
Ia berdiri dekat jendela.
“Kamu belum tidur?” tanya Nadia.
“Belum ngantuk.”
Nadia mengambil segelas air.
Kemudian berdiri tidak jauh darinya.
“Kamu masih suka hujan?”
Raka tersenyum.
“Kamu masih ingat?”
Nadia mengangguk.
“Kamu dulu selalu ngajak keluar kalau hujan.”
“Dan kamu selalu marah karena sepatu basah.”
Mereka tertawa.
Kemudian hening.
Nadia menatap keluar jendela.
“Aku kadang mikir tentang masa lalu.”
Raka menoleh.
“Seberapa sering?”
“Lebih sering dari yang seharusnya.”
Raka tidak menjawab.
Nadia menatapnya.
Kali ini tidak ada senyum.
Tidak ada candaan.
Hanya dua orang dewasa yang sama-sama memahami bahwa ada sesuatu yang belum benar-benar selesai di antara mereka.
Raka mengambil satu langkah mendekat.
Namun berhenti.
Ia tidak menyentuh Nadia.
“Kalau kamu mau aku mundur,” katanya pelan, “aku mundur.”
Nadia memandang matanya cukup lama.
Kemudian berbisik,
“Masalahnya bukan kamu.”
“Lalu?”
“Masalahnya aku tidak yakin ingin kamu mundur.”
Hujan masih turun di luar.
Malam semakin sunyi.
Dan setelah itu, tidak ada percakapan yang benar-benar perlu diteruskan.
Pintu ruang tamu perlahan tertutup.
Apa pun yang terjadi setelahnya menjadi rahasia yang hanya mereka berdua tahu.
Pagi berikutnya, Nadia bangun lebih awal.
Raka sudah membuat kopi.
Tidak ada yang membahas malam sebelumnya.
Nadia duduk di meja makan.
Raka meletakkan secangkir kopi di depannya.
“Masih tanpa gula?”
Nadia tersenyum.
“Kamu masih ingat.”
“Aku bilang kan.”
Raka duduk di seberangnya.
“Ada beberapa hal yang susah dilupakan.”
Nadia menatap kopi.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari suaminya.
Hati-hati kerja. Jangan lupa makan.
Nadia membaca pesan itu lama.
Dadanya terasa berat.
Raka memperhatikannya tetapi tidak bertanya.
Beberapa menit kemudian Nadia berdiri.
“Aku harus pergi.”
Raka mengangguk.
Ia membantu membawa koper ke depan rumah.
Sebelum masuk mobil, Nadia menoleh.
“Raka.”
“Iya?”
“Semalam…”
Raka menggeleng perlahan.
“Kamu tidak perlu menjelaskan.”
Nadia menatapnya.
“Kalau aku datang lagi ke kota ini?”
Raka tersenyum tipis.
“Rumah ini masih di tempat yang sama.”
Nadia akhirnya masuk ke mobil.
Saat kendaraan mulai berjalan, ia melihat Raka semakin jauh dari kaca spion.
Nadia tidak tahu apakah malam itu adalah kesalahan.
Atau jawaban dari sesuatu yang selama bertahun-tahun ia pendam.
Namun ia tahu satu hal.
Perjalanan dinas berikutnya ke kota itu tidak akan pernah terasa biasa lagi.
