LADANG YANG BUKAN MILIKNYA


Hujan baru saja berhenti ketika Arga tiba di kebun belakang rumah Pak Darma. Tanah masih basah, daun-daun cabai memantulkan sisa air, dan aroma rerumputan memenuhi udara sore.

Pak Darma sedang keluar kota selama beberapa hari. Ia menitipkan kebunnya kepada Arga, tetangga yang memang sudah lama membantu mengurus tanaman.

Namun sore itu, bukan hanya kebun yang menunggu kedatangannya.

Maya, istri Pak Darma, berdiri di teras belakang mengenakan pakaian rumah sederhana. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.

“Kamu datang juga,” katanya sambil tersenyum.

“Katanya tomatnya harus dipindah sebelum malam.”

Maya berjalan turun ke kebun. “Aku bantu.”

Mereka bekerja berdampingan. Arga menggali tanah, sementara Maya membawa bibit satu demi satu. Awalnya percakapan mereka hanya soal pupuk, cuaca, dan tanaman yang mulai berbunga.

Namun semakin matahari turun, suasananya berubah.

Saat Arga hendak mengambil sekop, tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan Maya.

Keduanya berhenti.

Hanya satu detik.

Namun cukup lama untuk membuat mereka sadar bahwa selama ini ada sesuatu yang sama-sama mereka hindari.

Maya menarik tangannya perlahan.

“Arga…”

“Iya?”

Kamu pernah merasa ingin sesuatu yang seharusnya tidak kamu inginkan?”

Arga menatapnya.

Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar percakapan sore.

“Pernah.”

Maya tersenyum kecil, tetapi tidak seperti biasanya.

“Dan kalau kesempatan itu datang?”

Arga tidak langsung menjawab.

Angin meniup rambut Maya ke wajahnya. Dengan refleks Arga mengangkat tangan, hampir ingin menyingkirkannya, tetapi berhenti sebelum menyentuh.

Maya justru maju setengah langkah.

Jarak mereka kini begitu dekat hingga Arga bisa mencium aroma sabun dari tubuhnya.

“Jangan,” bisik Arga.

“Kenapa?”

“Karena kalau diteruskan, mungkin kita akan menyesal.”

Maya menatap matanya lama.

“Kadang orang bukan takut menyesal,” katanya pelan. “Mereka takut ternyata mereka menyukainya.”

Suasana menjadi sunyi.

Di belakang mereka, tanah kebun yang baru digali tampak gelap oleh hujan.

Arga akhirnya mundur.

Namun Maya menggenggam pergelangan tangannya.

Tidak kuat.

Tidak memaksa.

Hanya cukup untuk mengatakan bahwa ia belum ingin Arga pergi.

Tatapan mereka bertemu kembali.

Malam mulai turun ketika pintu belakang rumah itu akhirnya tertutup.

Dan apa yang terjadi setelahnya hanya mereka berdua yang tahu.

Keesokan paginya, Arga kembali ke kebun.

Bibit tomat yang mereka tanam kemarin berdiri rapi dalam barisan.

Maya muncul di teras membawa dua cangkir kopi.

Tidak ada yang membicarakan malam sebelumnya.

Namun ketika Maya memberikan satu cangkir kepadanya, jari mereka kembali bersentuhan.

Kali ini tidak ada yang buru-buru menarik tangan.

Arga menatap kebun di hadapannya.

Ia tiba-tiba sadar bahwa beberapa hal memang mudah ditanam.

Tetapi jauh lebih sulit menghadapi apa yang tumbuh setelahnya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *