Desahan di Tempat Gym

Sudah hampir tiga bulan Nadia memilih latihan malam

Bukan karena ia terlalu sibuk pada siang hari, melainkan karena gym jauh lebih nyaman setelah pukul sembilan. Tidak banyak orang, tidak perlu antre alat, dan ia bisa berlatih tanpa merasa diperhatikan.

Usianya dua puluh sembilan tahun. Setelah beberapa tahun tenggelam dalam pekerjaan, Nadia akhirnya memutuskan memperbaiki rutinitas hidupnya.

Dan di gym itulah ia bertemu Rio.

Rio, tiga puluh satu tahun, adalah salah satu personal trainer yang bekerja di sana. Tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter, rambutnya selalu sedikit berantakan setelah seharian bekerja, dan hampir setiap malam ia menjadi trainer terakhir yang pulang.

Pertemuan pertama mereka sebenarnya tidak istimewa.

Nadia sedang mencoba melakukan squat ketika sebuah suara muncul dari belakang.

“Kalau lututnya masuk terlalu ke dalam, besok pasti sakit.”

Nadia langsung berdiri.

“Ngagetin.”

Rio tertawa.

“Maaf. Saya cuma nggak tega lihat orang menyiksa lutut sendiri.”

“Separah itu?”

“Lumayan.”

Sejak malam itu, Rio mulai sesekali membantu Nadia.

Awalnya cuma memberikan koreksi.

Lalu membuatkan program sederhana.

Kemudian akhirnya Nadia resmi memilihnya sebagai personal trainer.

Dan perlahan, hubungan mereka menjadi semakin santai.

“Delapan lagi,” kata Rio suatu malam.

Nadia mengangkat dumbbell dengan napas berat.

“Delapan apaan? Tadi katanya lima.”

“Bonus.”

“Trainer penipu.”

“Empat lagi.”

Nadia mengerang kesal.

“Rio…”

“Dua.”

Ia menyelesaikan repetisi terakhir lalu menjatuhkan tubuh ke bangku.

“Gila.”

Rio menyerahkan air mineral.

“Bagus.”

Nadia mengambil botol itu sambil menatapnya tajam.

“Suatu hari aku bakal lempar dumbbell ke kamu.”

Rio duduk di bangku sebelahnya.

“Tapi besok tetap datang?”

Nadia terdiam sebentar.

“Datang.”

Rio tersenyum.

Entah kenapa senyum itu membuat Nadia ikut tersenyum.


Mereka mulai semakin mengenal satu sama lain.

Rio tahu Nadia selalu memesan kopi tanpa gula.

Nadia tahu Rio membenci latihan kardio.

Rio tahu Nadia bekerja sebagai desainer interior.

Nadia tahu Rio sebenarnya sedang menabung untuk membuka tempat latihan sendiri.

Kadang setelah latihan selesai, mereka duduk sepuluh atau lima belas menit di dekat resepsionis.

Hanya mengobrol.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang hidup.

Hingga suatu malam Nadia bertanya,

“Kamu nggak punya pacar?”

Rio yang sedang membereskan resistance band menoleh.

“Kenapa tiba-tiba nanya?”

“Penasaran.”

“Single.”

“Serius?”

Rio tertawa.

“Kenapa reaksinya kayak nggak percaya?”

“Trainer gym biasanya banyak fans.”

“Fans ada.”

“Pacar?”

“Nggak.”

Nadia mengangguk sambil pura-pura sibuk melihat ponselnya.

Padahal ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dadanya.

Rio kemudian balik bertanya.

“Kalau kamu?”

Nadia menjawab singkat.

“Sudah lama sendiri.”

Rio berhenti membereskan alat.

Tatapan mereka bertemu.

“Berarti sama.”

Nadia segera memalingkan wajah.

“Jangan mulai.”

“Mulai apa?”

“Entahlah.”

Rio tersenyum kecil.

Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah.


Dua minggu kemudian hujan deras mengguyur kota.

Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh.

Gym hampir kosong.

Hanya ada seorang petugas resepsionis di lantai bawah, sementara Nadia dan Rio berada di area latihan lantai dua.

Nadia sedang melakukan hip thrust ketika Rio berdiri di sampingnya.

“Terakhir. Delapan.”

Nadia menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ototnya mulai terasa terbakar.

“Lima…”

Nadia mengeluarkan suara kecil karena menahan berat.

Rio tertawa.

“Katanya kuat?”

“Diam.”

“Tiga lagi.”

Nadia kembali mengangkat beban.

Napasnya semakin berat.

Saat repetisi terakhir selesai, ia langsung menjatuhkan tubuh ke bangku.

“Ya Tuhan…”

Rio tertawa.

“Nah, selesai.”

Nadia mengambil handuk lalu mengusap wajah.

“Kalau besok aku nggak bisa jalan, tanggung jawab.”

Rio berdiri di depannya.

“Tanggung jawab gimana?”

Nadia menatapnya.

“Ya… tanggung jawab.”

Rio tersenyum.

“Boleh.”

Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Suara hujan terdengar jelas dari jendela besar.

Nadia tiba-tiba sadar bahwa jarak mereka terlalu dekat.

Ia bisa mencium aroma parfum Rio bercampur sedikit aroma setelah latihan.

Rio juga tidak bergerak.

Tatapan mereka bertemu.

Nadia menjadi gugup.

“Kenapa lihat begitu?”

Rio tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata,

“Aku sebenarnya sudah lama mau ngomong sesuatu.”

Nadia mencoba tertawa.

“Jangan bilang program latihan aku naik lagi.”

“Bukan.”

Rio menarik napas.

“Aku suka sama kamu.”

Nadia terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Rio…”

“Aku tahu aku trainer kamu. Makanya aku selama ini diam.”

Nadia berdiri dari bangku.

“Sejak kapan?”

Rio tersenyum kecil.

“Mungkin sejak kamu ancam lempar dumbbell ke kepala aku.”

Nadia tidak bisa menahan tawa.

Namun setelah itu suasana kembali sunyi.

Rio berdiri hanya beberapa langkah darinya.

“Aku nggak minta kamu jawab sekarang.”

Nadia memainkan ujung handuk di tangannya.

“Kalau aku sebenarnya sudah tahu?”

Rio mengernyit.

“Tahu?”

“Kelihatan.”

Rio tertawa pelan.

“Segitu kelihatannya?”

“Lumayan.”

Rio kemudian menatapnya serius.

“Dan kamu tetap datang setiap malam.”

Nadia tidak menjawab.

Jawaban itu sebenarnya sudah cukup.


Sejak pengakuan itu hubungan mereka semakin dekat.

Namun mereka sepakat menjaga profesionalitas selama latihan.

Setidaknya mereka mencoba.

Masalahnya, tatapan mereka sekarang terasa berbeda.

Ketika Rio membantu memperbaiki posisi bahu Nadia, ia menjadi lebih hati-hati dari biasanya.

Ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil dumbbell, keduanya tiba-tiba menjadi diam.

Dan setiap selesai latihan, mereka semakin lama mengobrol.

Suatu malam Nadia duduk di lantai sambil bersandar pada dinding.

Rio duduk di sampingnya.

“Capek?”

Nadia mengangguk.

“Banget.”

Rio memberikan botol air.

Nadia menerimanya.

“Kamu selalu pulang paling malam?”

“Hampir.”

“Nggak bosan?”

Rio menoleh.

“Sekarang nggak.”

Nadia langsung memahami maksudnya.

“Gombal.”

“Tapi berhasil?”

Nadia tersenyum.

“Sedikit.”


Beberapa hari kemudian Nadia datang dengan suasana hati buruk.

Rio langsung menyadarinya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Nadia.”

Nada suaranya membuat Nadia akhirnya duduk.

“Aku ribut sama klien.”

Rio duduk di depannya.

“Masalah kerja?”

Nadia mengangguk.

“Proyek dua bulan direvisi hampir total.”

Rio hanya mendengarkan.

Tidak memberikan nasihat.

Tidak mencoba memperbaiki keadaan.

Ia hanya duduk bersamanya.

Setelah beberapa menit Nadia berkata,

“Aku kadang capek harus kelihatan kuat terus.”

Rio menatapnya.

“Di sini nggak perlu.”

Nadia terdiam.

Kalimat sederhana itu justru membuat matanya sedikit berkaca-kaca.

Rio mendekat dan memeluknya.

Awalnya Nadia kaku.

Kemudian perlahan ia membalas pelukan itu.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.

Nadia bisa mendengar detak jantung Rio.

Ketika mereka melepaskan pelukan, wajah mereka sangat dekat.

Rio menatapnya.

Nadia tidak menjauh.

“Boleh?” tanyanya pelan.

Nadia mengangguk.

Ciuman pertama mereka singkat.

Pelan.

Hampir ragu.

Namun ketika mereka kembali saling menatap, Nadia justru tersenyum.

“Cuma segitu?”

Rio tertawa.

“Katanya harus profesional.”

“Latihannya sudah selesai.”

Rio mendekat lagi.

Kali ini Nadia tidak menunggu.

Ia lebih dulu menarik kerah kaus Rio dan menciumnya.

Gym yang biasanya dipenuhi suara alat dan musik kini terasa sangat sunyi.

Hanya suara hujan dan napas keduanya yang tersisa.

Beberapa saat kemudian Rio berhenti.

“Nadia.”

“Hm?”

“Kita jangan keterusan di sini.”

Nadia tersenyum sambil masih berdiri dekat dengannya.

“Takut CCTV?”

“Takut aku lupa kalau ini tempat kerja.”

Nadia tertawa.

“Bagus. Berarti masih waras.”

Mereka mengambil barang masing-masing dan keluar dari gym.

Malam itu mereka pergi bersama.

Apa yang terjadi setelah pintu gym tertutup hanya menjadi milik mereka berdua.


Keesokan harinya Nadia bangun dan melihat pesan di ponselnya.

Rio: Bangun?

Nadia membalas:

Baru.

Beberapa detik kemudian muncul pesan lain.

Rio: Menyesal?

Nadia menatap layar cukup lama.

Kemudian mengetik:

Nggak. Kamu?

Balasan Rio langsung masuk.

Justru masalahnya aku pengen ketemu lagi.

Nadia tersenyum sendiri.


Mereka akhirnya mulai berkencan.

Tidak banyak orang di gym yang tahu.

Saat berada di tempat latihan, Rio tetap memanggilnya seperti member lain.

“Lima lagi.”

Nadia mengeluh.

“Jangan mentang-mentang sekarang pacaran kamu tambah berat.”

Rio tertawa.

“Justru karena pacaran makanya harus disiplin.”

“Trainer nggak punya hati.”

“Semalam ngomongnya beda.”

Nadia langsung menatap tajam.

“Rio!”

Rio tertawa keras.

Untung gym sedang sepi.

Nadia mengambil handuk dan melemparkannya ke arah Rio.


Beberapa bulan kemudian, Rio akhirnya berhenti bekerja di gym tersebut.

Ia berhasil menyewa sebuah tempat kecil untuk membuka studio latihan sendiri.

Hari pertama tempat itu dibuka, Nadia datang paling pagi.

Ruangan masih sederhana.

Beberapa mesin.

Dumbbell.

Cermin besar.

Dan sebuah papan kecil bertuliskan nama studio.

Rio berdiri di tengah ruangan.

“Gimana?”

Nadia melihat sekeliling.

“Bagus.”

“Cuma bagus?”

Nadia mendekat.

“Bangga.”

Rio tersenyum.

Nadia memeluknya.

Beberapa detik kemudian Rio berkata,

“Tapi kamu tetap harus bayar membership.”

Nadia langsung melepaskan pelukan.

“Serius?”

“Bisnis tetap bisnis.”

Nadia mengambil handuk dari meja lalu memukul bahunya.

Rio tertawa.

“Bercanda.”

Nadia menatapnya.

“Bagus.”

Ia kemudian berjalan menuju treadmill.

Rio memanggil dari belakang.

“Pemanasan sepuluh menit.”

Nadia menoleh.

“Lima.”

“Sepuluh.”

“Tujuh.”

“Deal.”

Nadia mulai berlari.

Rio berdiri sambil memperhatikannya.

Dan setiap kali Nadia mengeluh karena latihan terlalu berat, Rio selalu teringat malam pertama ketika sebuah desahan kelelahan di gym yang hampir kosong perlahan mengubah hubungan antara seorang trainer dan member menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Sesuatu yang akhirnya mereka pilih untuk jalani bersama.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *