Angga dan Lilis, sepasang kakak beradik yang begitu akrab, memulai hari mereka dengan semangat saat berlari pagi di padang rumput yang biasanya ramai akan orang-orang sekitar yang berolahraga dan Bermain bola. Namun, hari ini seolah menjadi milik mereka berdua sebelum berniat NOBAR bola dirumah di ,
karena tak ada seorang pun yang terlihat berlari di sekitar sana. Angga, remaja berusia 17 tahun dengan tubuh atletis dan nafsu yang menggebu-gebu, memandang kakaknya, Lilis, yang berusia 23 tahun, seorang perempuan manis yang berhijab dengan tubuh yang menggoda.
Lilis sering berolahraga mengenakan pakaian olahraga ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya sempurna bergoyang seirama dengan langkah larinya. Angga tak bisa menahan pikiran nakalnya saat memandang lekuk tubuh Lilis, kakak perempuannya sendiri.
“Kak, hari ini rasanya berbeda ya. Sepertinya hanya kita berdua saja yang lari pagi di sini,” kata Angga, mencoba memulai percakapan.

Lilis tersenyum, “Iya, mungkin orang-orang malas berlari pagi karena cuaca agak dingin hari ini.”
Angga semakin mendekat, “Tapi aku senang kita berdua saja. Aku bisa menghabiskan waktu dengan perempuan tercantik di desa ini.” Goda Angga ke kakaknya
Lilis tertawa kecil, “Ah, kamu ini, Angga. Selalu saja bercanda.” Jawab Lilis dengan wajah yang agak memerah.
Saat mereka berlari melewati sebuah pohon besar, Angga tiba-tiba menghentikan larinya dan menarik tangan Lilis, membuat kakaknya sedikit terkejut.
“Ada apa, Angga? Kenapa berhenti?” tanya Lilis, menatap adiknya dengan heran.
Angga tidak menghiraukan pertanyaan kakaknya dan tetap menarik tangan kakaknya menuju pohon yang rindang itu.
“Kita mau ngapain disini?” Tanya Lilis kebingungan.
Tanpa menjawab pertanyaan kakaknya, Angga dengan gerakan cepat, mendorong Lilis hingga tubuhnya bersandar di batang pohon itu, membuat napas gadis itu sedikit tersengal. Angga mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Lilis.
“Kak, aku sudah lama ingin melakukan ini,” bisik Angga, suaranya rendah dan penuh gairah. “Aku ingin merasakan tubuhmu, Kak. Aku tak bisa menahan hasratku lagi.” Kata Angga sambil tangannya mengelus wajah kakaknya.
Lilis terkejut dengan pengakuan adiknya, dia ingin memberontak,
namun ada sesuatu dalam mata Angga yang membuatnya tak bisa menolak. Tubuh Angga begitu dekat, dan ia bisa merasakan napas adik lelakinya yang terengah-engah menyentuh wajahnya.
“Angga… ini… kita… kita tidak boleh,” kata Lilis, suaranya gemetar.
Angga menyentuh bibir Lilis dengan jarinya, lalu menggesernya ke bawah, menyusuri lehernya. “Kita berdua sudah dewasa, Kak. Aku ingin merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
Lilis mencoba melawan, tapi tubuhnya seolah tak mau mendengarkan.
Angga meremas pantat Lilis, membuat gadis itu mendesah pelan.
“Kamu suka itu, Kak? Aku tahu kamu menginginkannya juga,” bisik Angga, lalu mencium leher Lilis dengan penuh hasrat.
Lilis menyerah pada godaan adik lelakinya. Tubuhnya mulai merespons sentuhan Angga. “Angga… jangan… di sini… hentikan…”
Tanpa peduli pada protes lembut Lilis, Angga menurunkan celana leging ketat kakaknya, lalu dia juga melepas celana pendeknya sendiri.
Lilis merasakan napasnya semakin cepat dan jantung yang semakin berdegup kencang saat melihat penis Angga yang sudah tegang, Liliis kaget melihat betapa besarnya penis adiknya sekarang.
Tangan nakal Angga kini turun ke bagian bawah tubuh kakaknya, mencari sumber kenikmatan untuk seorang laki-laki, jemari nakal Angga langsung menelusup masuk ke dalam vagina kakaknya. Lilis mendesah pelan saat dia merasakan vaginanya dimasuki oleh jari-jari nakal milik adiknya.
Angga tersenyum puas saat melihat betapa cabul ekspresi wajah dan desahan kaknya saat jarinya keluar masuk memainkan vagina kakaknya. clek clek clek, itu suara yang dihasilkan dari gesekan tangan Angga dan vagina Lilis,
suara cabul itu berpadu dengan merdunya kicauan burung dan suara rumput yang tertiup angin.
Setelah Angga sudah merasakan betapa basah seperti pengalamannya melihat SITUS DEWASA dan siapnya tubuh Lilis untuk segera dimasuki, Angga berkata. “Kak. Mari kita lakukan di bawah pohon yang rindang ini.”
menikmati setiap desahan dan erangan yang keluar dari mulut Lilis.
“Oh Angga… lebih dalam… ya… lebih cepat…” erang Lilis, tak mampu lagi menahan kenikmatan yang diberikan adiknya.
Angga terus memompa, menikmati sensasi luar biasa saat tubuhnya bersatu dengan tubuh kakak perempuannya. “Ahh! aaahhh… enak… enak banget kak, memek kakak enak banget…” Desah Angga.
Wajah Angga mendekati wajah kakaknya, bibirnya bergerak menuju bibir kakaknya,
Lilis menyambut bibir adik lelakinya dengan hangat, hingga bibir mereka berdua bersentuhan, lidah mereka bertautan, mereka saling merasakan manisnya liur satu sama lain.
Suara yang dihasilkan dari lidah mereka yang bertautan sangatlah menggairahkan,
berpadu dengan suara cabul paha mereka yang beradu, menciptakan atmosfer yang begitu panas di antara mereka, sangat kontras dengan dinginnya udara pagi.
Tak butuh waktu yang lama untuk Angga mencapai puncaknya,
Angga menyodokkan penisnya dalam-dalam ke vagina kakaknya dan melepaskan cairan sperma hangat ke dalam rahim Lilis. “aaaaggghhh! Kakak! Aku keluar!” Teriak Angga memeluk tubuh kakaknya
Begitu juga dengan Lilis, dia mencapai orgasmenya bersamaan dengan semburan sperma adiknya.
“Kakak juga! aaaaahhhhh…” Teriak Lilis.
Setelah SESI PENUH GAIRAH itu, mereka berdua berbaring di rumput, mencoba mengatur napas mereka yang terengah-engah. Angga memeluk Lilis dari belakang, “aku sayang kakak.” Bisik Angga di telinga kakaknya.
Lilis menoleh dan tersenyum,
“kakak juga sayang kamu, Angga.” Jawab Lilis sambil tangannya mencubit pelan tangan nakal adiknya yang masih meraba-raba vaginanya.
“Kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya, ini tetap jadi rahasia kita berdua.” Tambah Lilis.
Angga mengangguk dan kembali memeluk lebih erat tubuh kakaknya di bawah langit cerah pagi yang menjelang siang.
Mereka berdua layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tapi cinta yang tak seharusnya mereka rasakan.
