PUSAT CERITA 18+ – Malam sudah hampir pukul sebelas ketika Dimas pulang ke rumah kost setelah lembur. Hujan baru saja berhenti dan halaman depan masih dipenuhi genangan air.
Saat membuka pagar, ia melihat Bu Rani berdiri di teras.
Perempuan berusia 38 tahun itu adalah pemilik rumah kost tempat Dimas tinggal selama hampir setahun. Biasanya Bu Rani selalu tampil sederhana dan terlihat sibuk mengurus rumah.
Namun malam itu berbeda.
Ia mengenakan pakaian rumahan yang jauh lebih santai, rambutnya dibiarkan terurai, dan secangkir teh hangat berada di tangannya.
“Kamu baru pulang?” tanyanya.
“Iya, Bu. Banyak kerjaan.”
Bu Rani tersenyum kecil.
“Masuk dulu. Kamu kelihatan capek.”
Dimas mengangguk. Tetapi saat melewatinya, ia merasakan tatapan Bu Rani bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.
Perhatian yang Mulai Berbeda
Dalam beberapa minggu terakhir, hubungan mereka memang berubah.
Awalnya hanya percakapan sederhana.
Tentang pekerjaan.
Tentang makanan.
Tentang kehidupan di kota.
Namun lama-kelamaan, Bu Rani mulai sering menunggu Dimas pulang.
Kadang ia sengaja membuatkan kopi.
Kadang mereka duduk di teras hingga tengah malam sambil berbicara tentang banyak hal.
Dimas mulai mengetahui sisi lain perempuan itu.
Di balik sosok pemilik kost yang tegas, Bu Rani sebenarnya sering merasa kesepian.
Ia sudah lama hidup sendiri.
Rumah besar itu dipenuhi penghuni, tetapi ketika malam datang, hampir semua orang masuk ke kamar masing-masing.
Dan Bu Rani kembali sendirian.
Malam yang Terasa Berbeda
Malam itu listrik sempat mati karena hujan.
Bu Rani menyalakan beberapa lilin di ruang tengah.
“Duduk dulu,” katanya.
Dimas duduk di sofa sementara Bu Rani mengambil lilin tambahan.
Cahaya redup membuat suasana rumah terasa jauh lebih sunyi.
Bu Rani kemudian duduk tidak jauh darinya.
“Kamu punya pacar?” tanyanya tiba-tiba.
Dimas tertawa kecil.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Belum ketemu yang cocok.”
Bu Rani menatapnya beberapa detik.
Tatapan itu terasa berbeda.
Lebih dalam.
Lebih berani.
“Kadang orang yang cocok itu sebenarnya dekat,” katanya pelan.
Dimas terdiam.
Ia mulai memahami ke mana arah percakapan tersebut.
Hasrat yang Lama Dipendam
Bu Rani menundukkan wajah sejenak.
“Saya sebenarnya malu ngomong begini.”
“Ngomong apa?”
Perempuan itu tersenyum gugup.
“Kamu pasti sudah sadar kalau belakangan saya sering cari alasan supaya bisa ngobrol sama kamu.”
Dimas tersenyum.
“Sedikit.”
Bu Rani memukul lengannya pelan.
“Berarti kamu tahu?”
Dimas mengangguk.
Suasana kembali hening.
Tetapi kali ini keheningan tersebut terasa berbeda.
Tidak canggung.
Justru penuh sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka ucapkan.
Dimas kemudian menggenggam tangan Bu Rani perlahan.
Ia tidak menariknya.
Sebaliknya, jemarinya justru membalas genggaman tersebut.
Batas yang Akhirnya Hilang
Bu Rani menatapnya.
“Kamu yakin?”
Dimas memahami maksud pertanyaan itu.
Ia mengangguk.
Namun ia juga tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Bagaimanapun, mereka hidup di rumah yang sama dan hubungan mereka bisa menjadi rumit jika dilakukan tanpa pertimbangan.
“Aku nggak mau ini cuma karena suasana malam,” kata Dimas.
Bu Rani tersenyum.
“Kalau cuma karena malam, saya tidak akan menunggu kamu pulang hampir setiap hari.”
Kalimat itu membuat Dimas tertawa kecil.
Mereka semakin dekat.
Tidak ada lagi percakapan.
Hanya tatapan yang sudah cukup menjelaskan perasaan keduanya.
Malam itu menjadi titik di mana hubungan antara pemilik kost dan penghuni kost berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.
Apa yang terjadi setelah pintu ruang tengah tertutup hanya menjadi rahasia mereka.
Pagi yang Tidak Lagi Sama
Keesokan paginya, Dimas keluar kamar dan menemukan secangkir kopi sudah tersedia di meja.
Bu Rani sedang berdiri di dapur.
Ketika melihat Dimas, ia tersenyum.
Tidak ada rasa canggung.
Hanya senyum kecil yang menyimpan cerita dari malam sebelumnya.
“Berangkat kerja?”
Dimas mengangguk.
Bu Rani mendekat dan membetulkan kerah kemejanya.
“Jangan pulang terlalu malam.”
Dimas tersenyum.
“Kenapa?”
Bu Rani menatapnya sambil menahan senyum.
“Karena ada yang nunggu.”
Sejak saat itu, rumah kost tersebut tidak lagi sekadar tempat Dimas pulang setelah bekerja.
Di sana ada seseorang yang menunggunya.
Dan bagi Bu Rani, rumah yang selama bertahun-tahun terasa sepi perlahan memiliki alasan baru untuk terasa hidup.
