Reno pulang setelah hampir empat tahun bekerja di luar kota.
Ayahnya hanya mengatakan satu hal melalui telepon.
“Ayah sudah menikah lagi. Nanti kamu kenalan sama istri Ayah.”
Reno tidak terlalu memikirkannya.
Ibunya sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ia justru senang ayahnya akhirnya mempunyai seseorang untuk menemani hari tua.
Sampai pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan berdiri di belakang ayahnya.
Dan Reno merasa dunia seperti berhenti beberapa detik.
“Reno,” kata ayahnya sambil tersenyum, “kenalkan. Ini Maya.”
Maya.
Nama itu tidak perlu diperkenalkan.
Lima tahun lalu, perempuan itu pernah menjadi orang yang paling dekat dengannya.
Mantan pacarnya.
Hubungan mereka berakhir buruk setelah Reno memilih pergi bekerja ke luar kota. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada pertengkaran besar.
Hanya jarak.
Dan dua orang keras kepala yang sama-sama menunggu pihak lain menghubungi lebih dulu.
Sekarang Maya berdiri di rumahnya.
Sebagai istri ayahnya.
Maya terlihat sama terkejutnya.
Namun ia lebih cepat menyembunyikannya.
“Halo, Reno.”
Suara itu masih sama.
Reno menatap ayahnya.
“Kalian sudah lama kenal?”
Ayahnya tertawa.
“Baru sekitar setahun. Kenapa?”
Reno menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Maya menundukkan pandangan.
Dan sejak saat itu, makan malam pertama mereka terasa lebih panjang daripada seharusnya.
Malamnya, Reno keluar ke dapur untuk mengambil air.
Maya ternyata berada di sana.
Keduanya berhenti ketika saling melihat.
Tidak ada ayah Reno.
Tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura seperti orang asing.
“Kamu tidak pernah bilang,” kata Reno.
Maya memegang gelasnya erat.
“Aku juga tidak tahu dia ayahmu.”
Reno tertawa kecil, tetapi tidak terdengar lucu.
“Dunia sempit sekali.”
“Reno…”
“Kapan kamu tahu?”
“Baru waktu melihat fotomu di ruang kerja minggu lalu.”
Reno menatapnya.
“Dan kamu tetap menikah dengannya?”
Maya langsung menatap tajam.
“Aku sudah menikah dengan ayahmu saat itu.”
Reno terdiam.
Maya menarik napas.
“Aku tidak menikahi dia karena kamu.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Reno tidak menjawab.
Maya meletakkan gelas.
“Ayahmu orang baik.”
“Aku tahu.”
“Dan aku mencintainya.”
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada yang Reno perkirakan.
Namun mungkin memang itulah yang perlu ia dengar.
Maya berjalan meninggalkannya.
Sebelum keluar dari dapur, ia berhenti.
“Yang dulu sudah selesai.”
Reno menatap punggungnya.
“Kalau memang selesai, kenapa kamu kelihatan takut bicara sama aku?”
Maya tidak menjawab.
Ia hanya pergi.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Mereka berusaha menjaga jarak.
Namun rumah itu tidak terlalu besar.
Kadang mereka bertemu saat sarapan.
Kadang di halaman.
Kadang ketika ayah Reno masih bekerja dan mereka tanpa sengaja berada di ruang yang sama.
Mereka selalu berbicara seperlunya.
Sampai suatu sore Reno menemukan sebuah kotak lama ketika membongkar barang miliknya.
Di dalamnya ada foto.
Foto dirinya dan Maya ketika masih kuliah.
Reno menatap foto itu cukup lama.
“Kamu masih simpan?”
Suara Maya terdengar dari belakang.
Reno menoleh.
Maya berdiri di pintu kamar.
“Aku lupa benda ini masih ada.”
Maya masuk beberapa langkah.
Ia melihat foto tersebut.
Wajahnya berubah.
“Kita kelihatan muda sekali.”
“Kita memang muda.”
Maya tersenyum kecil.
“Dan bodoh.”
Reno mengangguk.
“Terutama aku.”
Maya menatapnya.
Reno melanjutkan.
“Aku seharusnya tidak pergi begitu saja.”
“Reno…”
“Aku cuma mau bilang itu.”
Maya mengambil napas pelan.
“Aku juga seharusnya tidak membiarkan semuanya berakhir tanpa penjelasan.”
Mereka terdiam.
Ada banyak hal yang dulu tidak sempat mereka katakan.
Namun sekarang semuanya terlambat.
Maya sudah menjadi bagian dari keluarga Reno dengan cara yang sama sekali berbeda.
Reno memasukkan foto tersebut kembali ke kotak.
“Aku akan buang.”
Maya menggeleng.
“Tidak perlu.”
Reno memandangnya.
“Kenapa?”
“Karena masa lalu tetap pernah terjadi.”
Maya tersenyum kecil.
“Tapi bukan berarti kita harus kembali ke sana.”
Reno mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa benar-benar memahami batas yang harus mereka jaga.
Beberapa minggu kemudian, ayah Reno mengadakan makan malam keluarga kecil.
Ia tampak bahagia.
Benar-benar bahagia.
Saat Reno melihat ayahnya bercanda dengan Maya, ia akhirnya mengerti sesuatu.
Hubungannya dengan Maya dulu adalah bagian dari hidup mereka.
Namun kehidupan tidak berhenti di sana.
Setelah makan malam, ayahnya masuk ke dalam rumah.
Maya dan Reno tinggal sebentar di halaman.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Maya.
Reno tersenyum.
“Sekarang iya.”
Maya mengangguk.
“Aku tidak ingin kamu membenci aku.”
“Aku tidak membenci kamu.”
“Lalu?”
Reno menatap rumah.
“Aku cuma butuh waktu menerima bahwa hidup ternyata punya cara aneh untuk mempertemukan orang lagi.”
Maya tertawa kecil.
“Itu kalimat paling dewasa yang pernah aku dengar dari kamu.”
Reno ikut tertawa.
Kemudian Maya masuk ke dalam rumah.
Reno tetap berdiri di halaman.
Ia menyadari bahwa beberapa cinta memang tidak berakhir dengan kembali bersama.
Kadang cinta hanya meninggalkan sebuah cerita.
Cerita yang harus disimpan.
Bukan untuk diulang.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa seseorang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita.
Dan malam itu, Reno akhirnya menutup masa lalunya.
Bukan sebagai mantan kekasih Maya.
Tetapi sebagai anak yang memilih menghormati kebahagiaan ayahnya.
