Bu Mira sudah hampir sepuluh tahun mengelola rumah kost kecil miliknya di pinggir kota.
Usianya empat puluh dua tahun.
Ia masih terlihat menarik, selalu rapi, wangi, dan punya cara bicara yang membuat para penghuni kost segan sekaligus nyaman.
Sebagian besar penghuni kostnya adalah pekerja muda.
Usia mereka rata-rata dua puluhan.
Dan salah satu penghuni baru bernama Danu.
Danu berusia dua puluh empat tahun.
Baru pindah ke kota.
Baru bekerja.
Dan belum terlalu mengenal siapa pun.
Hari pertama Danu datang, Bu Mira sendiri yang menunjukkan kamarnya.
“Kalau butuh apa-apa, bilang saja,” katanya.
Danu tersenyum.
“Siap, Bu.”
Bu Mira mengangkat alis.
“Jangan panggil saya terlalu tua begitu.”
Danu tertawa kecil.
“Terus panggil apa?”
“Mira juga boleh.”
Danu sedikit terkejut.
“Langsung?”
“Memangnya kenapa?”
Tatapan mereka bertemu.
Bu Mira tersenyum tipis.
“Kan kita sama-sama orang dewasa.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, Danu mengingatnya sampai malam.
Beberapa hari kemudian, Danu mulai terbiasa dengan suasana kost.
Bu Mira sering duduk di teras sore-sore sambil minum kopi.
Kadang ia memanggil penghuni kost hanya untuk ngobrol.
Danu termasuk yang paling sering diajak.
“Kerjaan gimana?” tanya Bu Mira suatu malam.
“Lumayan capek.”
“Masih betah?”
“Kalau tempat tinggalnya sih betah.”
Bu Mira tersenyum.
“Tempat tinggalnya?”
Danu sadar nada suaranya terdengar menggoda.
Ia buru-buru tertawa.
“Maksudnya kostnya nyaman.”
“Kirain karena ibu kostnya.”
Danu terdiam satu detik.
Bu Mira justru tertawa.
“Bercanda.”
Namun setelah itu, suasana jadi berbeda.
Danu mulai menyadari sesuatu.
Bu Mira sering menatapnya sedikit lebih lama.
Sering punya alasan untuk mampir ke kamarnya.
Kadang membawa makanan.
Kadang hanya mengetuk pintu dan bertanya,
“Sudah makan belum?”
Awalnya Danu menganggapnya biasa.
Sampai satu malam listrik di kost padam.
Sebagian penghuni sedang keluar.
Hanya Danu yang masih di kamar.
Bu Mira datang membawa lilin.
“Takut gelap?” tanyanya.
Danu tertawa.
“Enggak.”
“Bagus.”
Bu Mira masuk sebentar untuk meletakkan lilin.
Kamar menjadi remang-remang.
Cahaya kecil membuat suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Bu Mira berdiri dekat meja.
Danu duduk di tepi ranjang.
“Kenapa lihat saya begitu?” tanya Bu Mira.
Danu menggeleng.
“Enggak.”
“Bohong.”
Danu tersenyum.
Bu Mira melipat tangan.
“Jangan-jangan dari awal kamu memang suka perempuan lebih tua?”
Danu menatapnya.
“Kalau iya?”
Bu Mira tidak langsung menjawab.
Senyumnya perlahan berubah.
“Berani juga.”
Danu berdiri.
Jarak mereka sekarang lebih dekat.
Tidak ada yang menyentuh.
Tidak ada yang bergerak terlalu jauh.
Namun keduanya sadar bahwa obrolan itu bukan lagi sekadar candaan.
Bu Mira akhirnya mengambil napas.
“Kamu ini penghuni kost saya.”
Danu mengangguk.
“Iya.”
“Dan saya lebih tua dari kamu.”
“Iya.”
Bu Mira menatap matanya.
“Harusnya itu cukup bikin kamu mundur.”
Danu tersenyum kecil.
“Tapi kok ibu juga belum pergi?”
Bu Mira terdiam.
Kemudian tertawa pelan.
“Kamu memang bahaya.”
Ia akhirnya keluar kamar.
Namun sebelum pintu tertutup, ia berkata,
“Besok pagi jangan bangun kesiangan.”
Danu tersenyum.
“Kalau kesiangan?”
Bu Mira menatapnya.
“Saya bangunin.”
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.
Tidak terang-terangan.
Tidak ada yang tahu.
Namun Danu mulai hafal kapan Bu Mira sengaja berjalan lebih pelan ketika melewati kamarnya.
Bu Mira juga mulai tahu kapan Danu duduk di teras hanya karena menunggu dirinya keluar.
Kadang mereka berbicara biasa.
Kadang hanya saling menatap.
Dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin menggoda.
Suatu sore, hujan turun deras.
Danu baru pulang kerja dalam keadaan basah.
Bu Mira yang sedang di dapur langsung memanggil.
“Masuk sini dulu.”
Danu berdiri di dekat pintu.
Bu Mira mengambil handuk.
“Dasar anak muda.”
Ia memberikan handuk itu kepadanya.
Danu menerimanya sambil tersenyum.
“Katanya jangan panggil saya anak muda.”
Bu Mira menatapnya.
“Memangnya kamu bukan brondong?”
Danu tertawa.
“Nah, ketahuan.”
“Ketahuan apa?”
“Berarti Mira memang suka yang muda.”
Bu Mira terdiam.
Kemudian mendekat.
“Kalau iya?”
Kali ini Danu yang tidak langsung menjawab.
Hujan terdengar keras di luar.
Bu Mira menatap matanya.
Danu bisa merasakan suasana berubah.
Namun Bu Mira hanya mengambil napas pelan.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Danu tersenyum.
“Berarti belum dibantah.”
Bu Mira tertawa kecil.
“Kamu makin lama makin kurang ajar.”
“Tapi masih boleh tinggal di sini?”
Bu Mira berjalan meninggalkannya.
Sebelum masuk kamar, ia menoleh.
“Selama kamu bayar kost tepat waktu.”
Danu tertawa.
Namun senyum Bu Mira sebelum menutup pintu mengatakan sesuatu yang berbeda.
Hari-hari berlalu.
Para penghuni kost lain mulai menggoda.
“Dan, kok Bu Mira baik banget sama lo?”
Danu hanya tersenyum.
“Perasaan biasa aja.”
Temannya tertawa.
“Biasa dari mana? Kita telat bayar sehari udah ditagih. Lo telat dua hari malah dibawain makan.”
Danu tidak menjawab.
Karena ia sendiri mulai sadar.
Hubungan mereka memang tidak lagi biasa.
Suatu malam, setelah semua penghuni masuk kamar, Danu duduk sendirian di teras.
Bu Mira datang membawa dua cangkir kopi.
“Satu buat kamu.”
“Tumben.”
“Jangan kebanyakan tanya.”
Mereka duduk berdampingan.
Malam tenang.
Tidak ada suara selain kendaraan jauh di jalan utama.
Danu akhirnya bertanya,
“Mira pernah nyesel tinggal sendirian?”
Bu Mira memandang kopinya.
“Kadang.”
“Kesepian?”
Bu Mira mengangguk kecil.
“Kadang rumah ramai belum tentu bikin orang enggak kesepian.”
Danu menatapnya.
Bu Mira tersenyum.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Lihat saya terus.”
Danu menarik napas.
“Mungkin saya baru sadar ternyata Mira enggak segalak yang saya kira.”
“Terus saya apa?”
Danu tersenyum.
“Menarik.”
Bu Mira tertawa kecil.
“Kamu ngomong begitu ke semua perempuan?”
“Enggak.”
“Hanya ibu kost?”
Danu mengangguk.
“Hanya satu.”
Bu Mira menatapnya.
Lama.
Kemudian berkata,
“Kamu memang brondong paling berani yang pernah tinggal di sini.”
Danu tertawa pelan.
“Berarti pernah ada yang lain?”
Bu Mira berdiri.
“Rahasia.”
“Lho?”
Bu Mira berjalan menuju pintu.
Namun sebelum masuk, ia menoleh.
“Danu.”
“Iya?”
“Besok malam jangan pergi.”
Danu mengangkat alis.
“Kenapa?”
Bu Mira tersenyum tipis.
“Kita makan malam.”
“Berdua?”
Bu Mira tidak menjawab.
Ia hanya masuk ke dalam rumah.
Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di kost itu, Danu benar-benar menunggu hari berikutnya datang lebih cepat.
