Hujan turun deras malam itu.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
“Belum, Pak.”
Adrian meletakkan jasnya lalu menatap Maya lebih lama dari biasanya. Wajah perempuan itu terlihat lelah dan murung.
“Kamu akhir-akhir ini sering terlihat sendiri.”
Maya tersenyum tipis. “Memang kadang terasa sepi.”
Adrian mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah darinya.
“Kalau kamu tidak nyaman, saya tidak akan mendekat.”
Maya mengangkat wajahnya.
“Kalau saya ingin Bapak tetap di sini?”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Adrian perlahan mendekat. Jarak mereka semakin dekat sampai Maya bisa merasakan hangat napasnya.
Tangannya menyentuh lembut jemari Maya.
Maya tidak menarik diri.
Sebaliknya, ia menggenggam tangan Adrian.
“Jangan panggil saya Pak malam ini,” bisik Adrian.
Maya tersenyum kecil.
“Adrian…”
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik kemudian, Adrian mencium Maya dengan lembut. Ciuman yang awalnya ragu perlahan berubah menjadi lebih dalam dan penuh perasaan yang selama ini mereka tahan.
Maya menyandarkan tubuhnya ke dada Adrian.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak terasa dingin.
Malam semakin larut.
Ada perasaan yang sudah terlanjur tumbuh.
Dan keesokan harinya, mereka harus menghadapi akibatnya.
