Ardi tidak pernah menyangka orang yang paling berbahaya di kantornya justru seseorang yang sudah ia kenal jauh sebelum bekerja di sana.
Namanya Laras.
Usianya tiga puluh dua tahun, bekerja di divisi keuangan, dan sudah menikah dengan Dimas—teman Ardi sejak kuliah.
Dimas bukan hanya teman biasa. Mereka pernah tinggal satu kontrakan, pernah sama-sama susah mencari pekerjaan, bahkan Ardi hadir sebagai salah satu orang terdekat ketika Dimas menikahi Laras lima tahun lalu.
Karena itulah sejak hari pertama Laras masuk ke perusahaan yang sama, Ardi selalu menjaga jarak.
“Masih aneh lihat kamu pakai ID card kantor sini,” kata Ardi suatu pagi.
Laras tertawa.
“Lebih aneh lagi lihat sahabat suami sendiri sekarang jadi senior aku.”
“Jangan panggil senior. Tua banget kedengarannya.”
“Ya sudah, Pak Ardi.”
Ardi menggeleng sambil tersenyum.
Awalnya semuanya biasa saja.
Mereka makan siang bersama beberapa rekan.
Kadang bicara soal Dimas.
Kadang saling membantu pekerjaan.
Namun masalah mulai muncul ketika Dimas semakin sering bekerja ke luar kota.
Satu minggu.
Dua minggu.
Kadang hampir sebulan.
Laras mulai lebih sering pulang sendirian.
Dan karena Ardi tinggal searah, beberapa kali ia menawarkan tumpangan.
“Dimas tahu aku pulang sama kamu?”
“Harusnya malah senang. Daripada aku naik taksi malam-malam.”
Ardi tertawa.
“Benar juga.”
Percakapan di mobil awalnya ringan.
Tentang kantor.
Tentang makanan.
Tentang teman-teman lama.
Namun semakin lama, Laras mulai bercerita lebih pribadi.
Tentang bagaimana Dimas semakin sibuk.
Tentang telepon yang semakin pendek.
Tentang rumah yang terasa terlalu sepi.
Suatu malam, Laras tiba-tiba berkata,
“Aku kadang iri sama orang yang masih ditanya, ‘Hari kamu gimana?’”
Ardi menoleh sebentar.
“Dimas nggak pernah nanya?”
Laras tersenyum kecil.
“Dulu.”
Ardi tidak tahu harus menjawab apa.
Dan mungkin sejak malam itulah ia mulai melihat Laras bukan hanya sebagai istri sahabatnya.
Beberapa minggu kemudian perusahaan mengadakan audit besar.
Banyak karyawan harus lembur.
Malam itu tinggal Ardi, Laras, dan dua orang staf lain.
Menjelang pukul sebelas, staf terakhir pamit pulang.
Kini hanya mereka berdua.
Laras duduk di depan laptop sambil memijat pelipis.
“Capek?”
“Banget.”
Ardi berdiri.
“Kopi?”
“Kalau kamu bikinin.”
“Manja.”
Laras tersenyum.
“Kan ada kamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi Ardi berhenti sebentar.
Ia kemudian berjalan menuju pantry.
Beberapa menit kemudian mereka duduk berseberangan.
Laras melepas sepatu haknya dan menyandarkan tubuh ke kursi.
“Aku kangen masa kuliah kalian.”
“Kok kamu yang kangen?”
“Dimas sering cerita. Katanya dulu kalian selalu bareng.”
“Dulu iya.”
Laras menatap Ardi.
“Sekarang kamu jarang ketemu dia.”
“Dia sibuk.”
Laras tertawa kecil, pahit.
“Nah.”
Ardi memahami maksudnya.
Keheningan datang.
Laras kemudian berkata,
“Aku boleh jujur?”
“Boleh.”
“Aku nyaman sama kamu.”
Ardi langsung menatapnya.
“Laras.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu apa?”
“Ini salah.”
Ardi menghembuskan napas.
“Kalau tahu, jangan diterusin.”
Laras tersenyum kecil.
“Kalau gampang, aku nggak akan ngomong.”
Ardi berdiri.
“Kita pulang.”
Laras ikut berdiri.
Namun ketika mengambil tas, tangannya menyentuh tangan Ardi.
Keduanya berhenti.
Ardi segera menarik tangannya.
“Jangan.”
Laras menatapnya.
“Aku belum ngapa-ngapain.”
“Justru itu.”
“Maksud kamu?”
Ardi diam beberapa detik.
“Karena kalau kamu lebih dekat lagi, aku takut aku yang melakukan sesuatu.”
Tatapan Laras berubah.
Untuk pertama kalinya, keduanya tidak lagi pura-pura.
Ada sesuatu di antara mereka.
Sudah lama.
Hanya belum pernah diucapkan.
Sejak malam itu mereka mencoba menghindar.
Ardi mulai makan siang di luar kantor.
Laras berhenti meminta tumpangan.
Pesan mereka hanya soal pekerjaan.
Namun justru jarak itu membuat semuanya terasa lebih jelas.
Ardi mulai menunggu suara langkah Laras.
Laras mulai memperhatikan jam pulang Ardi.
Suatu sore Laras mengirim pesan:
“Dimas pulang minggu depan.”
Ardi membaca berkali-kali.
Kemudian membalas:
“Bagus.”
Beberapa menit kemudian muncul pesan lagi.
“Kenapa jawabannya kayak begitu?”
Ardi tidak membalas.
Malam Jumat mereka kembali lembur.
Kali ini tanpa sengaja.
Ardi sedang berdiri di depan mesin fotokopi ketika Laras muncul di belakangnya.
“Kamu masih marah?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Ardi menoleh.
“Aku cuma berusaha nggak bikin masalah.”
Laras mendekat.
“Masalahnya sudah ada.”
“Belum.”
Laras menatapnya.
“Ardi.”
Nada suaranya berbeda.
Lebih lembut.
Lebih pribadi.
Ardi berkata pelan,
“Dia sahabat aku.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu istrinya.”
“Aku juga tahu.”
“Terus kenapa kamu masih berdiri sedekat ini?”
Laras tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Beberapa detik terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.
Ardi akhirnya mundur.
Namun Laras memegang lengannya.
“Sekali aja, jangan jadi orang yang selalu benar.”
Kalimat itu menghancurkan sisa jarak mereka.
Malam itu, untuk beberapa saat, keduanya berhenti memikirkan status, persahabatan, dan akibatnya.
Yang tersisa hanya dua orang dewasa yang terlalu lama menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak pernah tumbuh.
Ketika akhirnya mereka sadar kembali, ruangan sudah sangat sunyi.
Laras duduk sambil menunduk.
Ardi berdiri beberapa langkah darinya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kemenangan.
Hanya rasa bersalah.
Laras berkata,
“Kita baru saja menghancurkan sesuatu.”
Ardi tidak membantah.
Hari Senin Dimas datang ke kantor.
Ia membawa makanan untuk Laras dan mampir ke meja Ardi.
“Bro!”
Dimas memeluk sahabatnya.
Ardi kaku.
“Lama nggak ketemu.”
“Gila, kerjaan gue bikin hidup di pesawat.”
Dimas tertawa.
Kemudian ia menunjuk Laras.
“Untung ada lu di sini. Gue jadi tenang kalau Laras pulang malam.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Ardi hanya tersenyum tipis.
Laras yang berada beberapa meter dari mereka menunduk.
Hari itu mereka tidak saling menatap.
Beberapa hari kemudian Laras meminta bertemu di parkiran.
“Kita harus berhenti.”
Ardi mengangguk.
“Iya.”
“Aku mau memperbaiki rumah tangga aku.”
“Itu yang benar.”
Laras tersenyum sedih.
“Kamu gampang banget ngomong begitu.”
“Karena kalau aku ngomong apa yang sebenarnya aku mau, semuanya bakal makin rusak.”
Mata Laras mulai berkaca-kaca.
“Apa yang sebenarnya kamu mau?”
Ardi terdiam lama.
Kemudian berkata,
“Aku mau kamu.”
Laras menutup mata sebentar.
“Tapi?”
“Tapi aku nggak mau mendapatkan kamu dengan kehilangan sahabat aku dan menghancurkan hidup kalian.”
Laras mengangguk.
Itulah percakapan terakhir mereka tentang perasaan.
Beberapa bulan kemudian Laras mengajukan pindah cabang.
Tidak ada orang kantor yang tahu alasannya.
Hari terakhirnya, Dimas datang membantu membawa barang.
Ardi berdiri dari meja.
Dimas memeluknya.
“Jangan hilang, Bro.”
Ardi mengangguk.
“Pasti.”
Laras berdiri beberapa langkah di belakang.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak lama.
Hanya cukup untuk mengingatkan bahwa pernah ada sesuatu di antara mereka.
Laras kemudian berkata,
“Makasih ya, Di.”
Ardi menjawab,
“Jaga diri.”
Laras tersenyum kecil.
“Kamu juga.”
Lalu ia pergi bersama suaminya.
Ardi memperhatikan mereka masuk ke lift.
Pintu menutup.
Dan ketika bayangan Laras menghilang, Ardi akhirnya mengerti bahwa beberapa hubungan tidak berakhir karena perasaannya hilang.
Ada hubungan yang harus berakhir justru karena perasaannya terlalu nyata, sementara tempatnya di hidup mereka sepenuhnya salah.
