Hujan turun sejak sore ketika Adrian tiba di sebuah penginapan kecil di kaki bukit. Tempat itu sederhana—bangunan kayu, lampu kuning hangat, dan suara hujan yang terus mengetuk jendela.
Ia datang untuk menghadiri acara kantor keesokan pagi.
Yang tidak pernah ia bayangkan adalah perempuan di balik meja resepsionis malam itu.
“Naya?”
Perempuan itu mengangkat wajah.
Tatapan mereka langsung membeku.
“Adrian…”
Hampir empat tahun mereka tidak pernah bertemu.
Naya adalah mantan kekasihnya.
Perempuan yang dulu pernah ia bayangkan akan menjadi orang terakhir dalam hidupnya.
Hubungan mereka berakhir bukan karena perselingkuhan atau pertengkaran besar. Adrian mendapat pekerjaan di kota lain, sementara Naya memilih tetap tinggal untuk menjaga ibunya. Mereka mencoba menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa bulan.
Kemudian pesan semakin jarang.
Telepon semakin singkat.
Sampai akhirnya mereka berhenti saling menghubungi tanpa benar-benar pernah mengucapkan selamat tinggal.
Kini mereka berdiri hanya beberapa meter satu sama lain.
“Kamu kerja di sini?” tanya Adrian.
“Penginapan punya tante aku. Aku bantu mengelola sekarang.”
Adrian mengangguk.
Naya mengambil kunci kamar.
“Kamar dua belas. Lantai dua.”
Ketika menyerahkan kunci, ujung jari mereka sempat bersentuhan.
Keduanya langsung menarik tangan.
“Terima kasih.”
“Iya.”
Adrian berjalan menuju tangga.
Namun sebelum naik, ia mendengar Naya memanggil.
“Adrian.”
Ia menoleh.
Naya tersenyum tipis.
“Kamu masih minum kopi tanpa gula?”
Adrian tersenyum.
“Masih.”
Entah mengapa detail kecil itu terasa lebih menyakitkan dibanding kenangan besar mereka.
Sekitar pukul sembilan malam, listrik penginapan sempat mati karena hujan.
Adrian keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
Naya sedang menyalakan beberapa lilin di ruang makan.
“Romantis juga penginapannya,” kata Adrian bercanda.
Naya tertawa kecil.
“Kalau kamu mau romantis, salah tempat. Di sini paling banyak pasangan yang berantem gara-gara sinyal.”
Adrian membantu menyalakan lilin.
Mereka kemudian duduk di dekat jendela.
Naya membawa dua cangkir kopi.
Salah satunya tanpa gula.
Adrian menatap cangkir itu.
“Kamu masih ingat.”
Naya mengangkat bahu.
“Ada hal yang susah dilupakan.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.
Adrian akhirnya bertanya,
“Kamu pernah marah sama aku?”
Naya menatap hujan.
“Pernah.”
“Karena aku pergi?”
“Karena kamu berhenti mencoba.”
Adrian menunduk.
“Itu adil.”
Naya tersenyum pahit.
“Kamu?”
“Aku marah sama diri sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena waktu itu aku pikir kalau hubungan terasa sulit, berarti memang harus selesai.”
Adrian menatap Naya.
“Ternyata setelah kehilangan kamu, aku baru sadar sesuatu yang berharga memang kadang sulit.”
Naya tidak menjawab.
Tangannya menggenggam cangkir lebih erat.
“Jangan ngomong seperti itu sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena empat tahun terlalu lama.”
Adrian mengangguk.
“Aku tahu.”
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri untuk pergi.
Listrik kembali menyala sekitar pukul sepuluh.
Tetapi mereka tetap duduk di sana.
Percakapan yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi cerita panjang.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang orang-orang yang sempat hadir setelah hubungan mereka berakhir.
Adrian bercerita bahwa ia pernah hampir menikah dua tahun sebelumnya.
“Kenapa batal?”
“Kami sadar kami cuma takut sendirian.”
Naya mengangguk.
“Kamu?”
Adrian balik bertanya.
Naya terdiam sebentar.
“Ada beberapa orang.”
“Serius?”
“Kenapa? Kamu pikir aku empat tahun duduk nungguin kamu?”
Adrian tertawa.
“Bukan begitu.”
Naya ikut tertawa.
Untuk beberapa detik rasanya seperti mereka kembali menjadi pasangan berusia dua puluhan yang dulu sering menghabiskan malam hanya untuk berbicara.
Kemudian Adrian bertanya pelan,
“Ada yang serius?”
Naya menggeleng.
“Tidak sampai menikah.”
Adrian tidak tahu kenapa jawaban itu membuatnya lega.
Naya langsung menangkap ekspresinya.
“Kamu senang?”
“Sedikit.”
“Jahat.”
“Maaf.”
Namun keduanya tertawa.
Menjelang tengah malam, hujan semakin deras.
Naya berdiri.
“Aku harus cek pintu belakang.”
“Aku bantu.”
Mereka berjalan melewati lorong sempit penginapan.
Setelah memastikan semuanya terkunci, mereka berhenti di depan kamar Adrian.
“Selamat malam,” kata Naya.
Adrian mengangguk.
Namun tidak masuk.
Naya juga tidak langsung pergi.
Jarak mereka hanya beberapa langkah.
“Ada apa?” tanya Naya.
Adrian memandangnya lama.
“Aku cuma sedang mencoba mengingat kapan terakhir kali kita berdiri sedekat ini.”
Naya menunduk.
“Jangan.”
“Maaf.”
Adrian hendak membuka pintu.
Namun tangan Naya tiba-tiba memegang lengannya.
Adrian berhenti.
Ketika menoleh, mata mereka kembali bertemu.
Ada begitu banyak hal yang tidak pernah mereka selesaikan.
Rindu.
Marah.
Penyesalan.
Dan sesuatu yang ternyata masih hidup setelah empat tahun.
Naya berkata pelan,
“Aku benci kamu.”
Adrian tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Naya menggeleng.
“Bukan begitu.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku benci karena setelah empat tahun, kamu masih bisa bikin aku merasa seperti ini.”
Adrian tidak menjawab.
Ia hanya mendekat satu langkah.
“Kalau aku mundur sekarang, bilang.”
Naya tidak berkata apa-apa.
Adrian semakin dekat.
Dan akhirnya Naya yang menghapus jarak terakhir di antara mereka.
Ciuman itu tidak terburu-buru.
Tidak seperti dua orang yang baru saling mengenal.
Lebih seperti dua orang yang akhirnya menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.
Ketika mereka melepaskan ciuman, Naya menatapnya.
“Kita mungkin akan menyesal besok.”
Adrian berkata,
“Mungkin.”
Naya tersenyum kecil.
“Tapi malam ini aku nggak mau berpikir soal besok.”
Pintu kamar tertutup perlahan.
Dan malam itu, apa yang tersisa dari empat tahun jarak akhirnya mereka bicarakan tanpa banyak kata.
Pagi datang terlalu cepat.
Adrian bangun ketika cahaya matahari masuk melalui celah tirai.
Hujan sudah berhenti.
Naya duduk di dekat jendela sambil memegang secangkir kopi.
Adrian tersenyum.
“Kopi tanpa gula?”
Naya menyerahkannya.
“Tentu.”
Adrian duduk di sampingnya.
Tidak ada kecanggungan seperti yang mereka takutkan.
Justru ada ketenangan.
Naya berkata,
“Kamu berangkat jam berapa?”
“Sekitar sepuluh.”
Naya mengangguk.
Kemudian Adrian bertanya,
“Kita mau pura-pura malam tadi nggak pernah terjadi?”
Naya menatapnya.
“Kalau kamu mau.”
“Aku nggak mau.”
Naya terdiam.
Adrian melanjutkan,
“Dulu aku pergi karena aku pikir hidup harus berjalan sesuai rencana.”
Ia menggenggam tangan Naya.
“Sekarang aku cuma ingin tahu apakah masih ada kesempatan untuk kita mencoba lagi.”
Naya menatap tangan mereka.
“Aku nggak mau hubungan yang cuma indah karena nostalgia.”
“Aku juga nggak.”
“Dan aku nggak akan pindah ke kota kamu.”
“Aku nggak minta.”
Naya menatapnya.
“Terus?”
“Kali ini kita cari jalan tengah. Bukan langsung menyerah.”
Naya tersenyum kecil.
“Kamu berubah.”
“Sedikit.”
“Sedikit banget.”
Adrian tertawa.
Sebelum meninggalkan penginapan, Adrian berdiri di depan resepsionis.
Naya menyerahkan kuitansi.
“Terima kasih sudah menginap.”
Adrian menerimanya.
“Pelayanannya bagus.”
Naya menahan senyum.
“Mau kasih ulasan?”
“Lima bintang.”
“Kenapa?”
Adrian mendekat sedikit.
“Karena aku menemukan sesuatu yang dulu aku kira sudah hilang.”
Naya menggeleng sambil tersenyum.
“Gombal.”
Adrian mengambil koper.
Sebelum keluar, ia menoleh.
“Dua minggu lagi aku kembali.”
Naya mengangkat alis.
“Memangnya ada acara kantor lagi?”
“Nggak.”
“Terus?”
Adrian tersenyum.
“Kali ini memang mau ketemu kamu.”
Naya tidak menjawab.
Namun senyumnya cukup.
Adrian berjalan keluar.
Udara pagi terasa dingin setelah hujan.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, perpisahan mereka tidak terasa seperti sebuah akhir.
Karena kali ini, keduanya tahu bahwa mereka akan bertemu lagi.
