Reno sudah tinggal di kompleks itu hampir tiga tahun.
Rumahnya berada tepat di sebelah rumah pasangan Arman dan Selvi. Mereka bertiga cukup akrab—sering saling menitipkan paket, berbagi makanan, bahkan beberapa kali makan malam bersama.
Arman bekerja di luar kota dan biasanya baru pulang pada akhir pekan.
Sedangkan Selvi, 34 tahun, lebih sering sendirian di rumah.
Awalnya Reno tidak pernah memikirkan apa pun tentangnya.
Selvi hanyalah istri tetangga.
Sampai suatu malam hujan turun deras dan listrik di rumah Selvi mati.
Tok.
Tok.
Tok.
Reno membuka pintu.
Selvi berdiri di depan rumah sambil memegang senter kecil.
“Ren, bisa bantu sebentar?”
“Kenapa?”
“Listrik rumahku mati. Aku nggak ngerti panelnya.”
Reno mengambil sandal lalu mengikuti Selvi.
Ia memeriksa kotak listrik di belakang rumah.
“MCB-nya turun.”
“Bisa diperbaiki?”
“Sebentar.”
Beberapa menit kemudian lampu kembali menyala.
Selvi tersenyum lega.
“Penyelamat.”
“Bayarnya mahal.”
Selvi tertawa.
“Mau dibayar apa?”
Reno hendak menjawab bercanda, tetapi tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, keduanya diam.
Kemudian Reno segera mengalihkan pandangan.
“Kopi aja.”
“Deal.”
Malam itu ternyata menjadi awal kebiasaan kecil.
Kadang Selvi mengirim makanan.
Kadang Reno membantu membawa belanjaannya.
Kadang mereka berdiri di depan pagar dan mengobrol lebih lama dari seharusnya.
Sampai suatu sore Selvi bertanya,
“Kamu nggak kesepian tinggal sendiri?”
Reno tersenyum.
“Kadang.”
“Kok belum nikah?”
“Belum ketemu yang cocok.”
Selvi mengangguk.
“Enak ya masih bebas.”
Reno tertawa kecil.
“Memangnya menikah nggak enak?”
Selvi terdiam sebentar.
“Bukan nggak enak.”
“Terus?”
“Kadang… sepi juga.”
Reno langsung memahami bahwa percakapan itu sudah memasuki wilayah yang seharusnya tidak ia sentuh.
Ia mengganti topik.
Namun sejak saat itu, ia mulai memperhatikan Selvi dengan cara yang berbeda.
Beberapa minggu kemudian Arman kembali mendapat tugas keluar kota.
Malam itu Selvi mengirim pesan.
Selvi: Kamu sudah makan?
Reno membalas.
Belum.
Aku masak kebanyakan. Ambil sini.
Reno datang sekitar pukul delapan.
Selvi sudah menyiapkan makanan di meja makan.
“Cuma ambil makanan atau makan di sini?” tanyanya.
Reno melihat meja.
“Kalau sudah disiapin begini, masa dibungkus?”
Mereka makan bersama.
Tidak ada sesuatu yang aneh.
Sampai percakapan mereka kembali menjadi terlalu pribadi.
Selvi bercerita bahwa akhir-akhir ini Arman hampir selalu sibuk.
“Aku kadang merasa kayak punya rumah tapi nggak punya teman pulang.”
Reno menatapnya.
“Sudah pernah ngomong sama Arman?”
“Sudah.”
“Terus?”
“Katanya ini semua buat keluarga.”
Selvi tersenyum tipis.
“Aku ngerti. Tapi kadang yang dibutuhkan seseorang bukan uang lebih banyak.”
Reno tidak menjawab.
Selvi menatapnya.
“Kenapa diam?”
“Karena aku takut salah ngomong.”
“Misalnya?”
Reno memainkan gelas di tangannya.
“Misalnya aku bilang aku paham kenapa kamu kesepian.”
Selvi terdiam.
Suasana langsung berubah.
Setelah makan, Reno membantu membawa piring ke dapur.
Selvi berdiri di sampingnya.
Ketika Reno hendak mengambil sebuah gelas, tangan mereka bersentuhan.
Tidak ada yang langsung menarik tangan.
Selvi menatapnya.
Reno berkata pelan,
“Sel…”
“Iya?”
“Kita mulai terlalu nyaman.”
Selvi tersenyum kecil.
“Baru sadar?”
Reno mundur setengah langkah.
“Kamu istrinya Arman.”
“Aku tahu.”
“Dia teman aku.”
“Aku juga tahu.”
“Berarti kita harus hati-hati.”
Selvi menatapnya beberapa detik.
“Kalau aku bilang aku juga suka ngobrol sama kamu?”
Reno menarik napas.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena aku bakal senang dengarnya.”
Selvi tidak menjawab.
Namun ekspresinya sudah cukup.
Sejak malam itu mereka mencoba menjaga jarak.
Setidaknya beberapa hari.
Tidak ada pesan.
Tidak ada obrolan panjang di pagar.
Reno bahkan sengaja berangkat kerja lebih pagi agar tidak bertemu Selvi.
Namun justru karena menghindar, ia semakin memikirkannya.
Kemudian pada Jumat malam, bel rumahnya berbunyi.
Selvi berdiri di sana.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Terus kenapa menghilang?”
Reno menghela napas.
“Karena aku lagi mencoba melakukan hal yang benar.”
Selvi menatapnya.
“Sulit?”
“Banget.”
Selvi tertawa kecil, tetapi matanya terlihat sedih.
“Aku pikir cuma aku.”
Reno terdiam.
Hujan kecil mulai turun di luar.
“Masuk dulu,” katanya.
Selvi masuk.
Dan itu mungkin keputusan pertama yang seharusnya tidak mereka ambil.
Mereka duduk di ruang tamu dengan dua cangkir kopi.
Tidak ada televisi.
Tidak ada musik.
Hanya suara hujan.
Selvi berkata,
“Aku nggak tahu kapan terakhir kali ada orang yang benar-benar dengerin aku.”
“Arman sebenarnya sayang kamu.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Selvi menatap Reno.
“Perasaan manusia nggak selalu masuk akal.”
Reno mengangguk perlahan.
“Aku juga mulai tahu itu.”
Selvi berdiri untuk meletakkan cangkirnya.
Ketika berbalik, Reno juga berdiri.
Mereka kini sangat dekat.
Selvi berbisik,
“Kalau aku pulang sekarang, semuanya masih bisa dianggap nggak pernah terjadi.”
Reno menatapnya lama.
“Harusnya kamu pulang.”
Selvi mengangguk.
Namun ia tidak bergerak.
Reno juga tidak.
Beberapa detik kemudian Selvi berkata,
“Kenapa kamu nggak buka pintunya?”
Reno tersenyum tipis.
“Karena aku juga nggak mau kamu pergi.”
Kejujuran itu menghancurkan batas terakhir mereka.
Selvi mendekat.
Reno menyentuh tangannya.
“Yakin?”
Selvi menatapnya.
“Kalau aku bilang berhenti, berhenti.”
“Pasti.”
Mereka akhirnya berciuman.
Pelan pada awalnya.
Penuh keraguan.
Kemudian semua perasaan yang selama berminggu-minggu mereka tahan terasa semakin sulit disembunyikan.
Namun ketika keadaan mulai semakin jauh, Reno berhenti sejenak.
“Kita masih bisa berhenti.”
Selvi terdiam.
Ia menempelkan keningnya pada kening Reno.
“Aku tahu.”
Malam itu mereka membuat pilihan yang keduanya tahu akan mengubah hubungan mereka.
Apa yang terjadi setelahnya tidak membutuhkan banyak kata.
Pagi berikutnya Selvi duduk di ujung sofa.
Reno membawakan kopi.
Tidak ada senyum seperti biasanya.
Selvi berkata,
“Aku merasa bersalah.”
Reno duduk di sampingnya.
“Aku juga.”
“Tapi aku nggak bisa bilang aku menyesal sepenuhnya.”
Reno menatapnya.
“Itulah yang bikin semuanya lebih buruk.”
Selvi mengangguk.
Mereka sadar bahwa yang terjadi bukan sesuatu yang bisa terus dijalani diam-diam tanpa menghancurkan banyak hal.
“Aku harus pulang,” kata Selvi.
Reno mengangguk.
Sebelum keluar, Selvi menoleh.
“Setelah ini?”
“Kita kasih jarak.”
Selvi tersenyum sedih.
“Mungkin itu yang paling benar.”
Beberapa minggu kemudian Arman pulang.
Sore itu Reno sedang menyiram tanaman ketika Arman menyapanya dari pagar.
“Ren!”
Reno menoleh.
Arman tersenyum.
“Lama nggak nongkrong. Besok malam ngopi, ya.”
Reno terasa sulit membalas senyum.
“Boleh.”
Selvi muncul di belakang Arman.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Kemudian Selvi segera memalingkan wajah.
Pada saat itulah Reno benar-benar memahami akibat dari malam tersebut.
Bukan hanya soal ketahuan atau tidak.
Melainkan tentang kepercayaan seseorang yang tidak pernah tahu bahwa dua orang terdekatnya pernah melewati batas.
Beberapa bulan setelah itu, Selvi dan Arman memutuskan pindah ke kota lain karena pekerjaan Arman.
Hari mereka berangkat, Reno membantu mengangkat beberapa kardus ke mobil.
Arman menepuk bahunya.
“Kalau ke kota gue, ngabarin.”
Reno mengangguk.
“Pasti.”
Selvi berdiri di dekat pintu mobil.
Ketika Arman masuk sebentar ke rumah mengambil barang terakhir, Selvi berkata pelan,
“Ren.”
Reno menoleh.
“Jaga diri.”
“Kamu juga.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sentuhan.
Hanya dua orang yang mengerti arti kalimat sederhana tersebut.
Selvi kemudian masuk ke mobil.
Beberapa menit kemudian kendaraan itu meninggalkan kompleks.
Reno berdiri di depan rumahnya sampai mobil mereka menghilang di ujung jalan.
Ia tahu mungkin ia tidak akan pernah bertemu Selvi lagi.
Namun ada hubungan yang memang lebih baik menjadi kenangan.
Bukan karena hasratnya tidak pernah nyata.
Melainkan karena terkadang sesuatu yang terasa begitu kuat tetap bisa berada di tempat yang salah.
