Setelah Lima Tahun, Bu Wali Kelas Itu Kembali

Raka tidak menyangka pertemuan itu akan terjadi di sebuah kafe kecil pada malam hujan.

Lima tahun telah berlalu sejak ia lulus sekolah. Kini usianya dua puluh tiga tahun, sudah bekerja, hidup sendiri, dan nyaris tidak pernah memikirkan masa-masa sekolahnya.

Sampai seseorang memanggil namanya.

“Raka?”

Ia menoleh.

Dan seketika seluruh suara di kafe seperti menghilang.

Bu Alya.

Dulu wali kelasnya.

Sekarang ia berdiri beberapa langkah darinya dengan penampilan yang jauh berbeda dari yang ia ingat. Tidak ada seragam kerja, tidak ada tumpukan buku, tidak ada tatapan tegas seorang guru.

Yang berdiri di hadapannya malam itu hanyalah seorang perempuan dewasa yang elegan.

Bu Alya?” Raka tersenyum tidak percaya.

Alya tertawa kecil.

“Masih panggil Bu?”

“Sudah kebiasaan.”

“Kamu sudah bukan murid saya lagi.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa, Raka merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengarnya.

Mereka akhirnya duduk satu meja.

Awalnya hanya berbicara tentang masa lalu.

Tentang teman-teman sekolah.

Tentang pekerjaan.

Tentang kehidupan setelah kelulusan.

Namun semakin lama, percakapan mereka semakin personal.

Raka baru tahu Alya sudah lama pindah sekolah.

Alya juga baru menyadari bahwa murid pendiam yang dulu selalu duduk dekat jendela kini berubah menjadi pria yang jauh lebih percaya diri.

“Kamu berbeda sekali,” kata Alya.

“Beda bagaimana?”

Alya memandangnya beberapa detik.

“Lebih berani menatap orang.”

Raka tersenyum.

“Dulu saya takut sama Bu Alya.”

Alya menaikkan alis.

“Sekarang?”

Raka tidak langsung menjawab.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya terdiam cukup lama.

“Sekarang tidak,” jawab Raka akhirnya.

Senyum Alya berubah tipis.

Hujan di luar semakin deras.

Ketika kafe mulai sepi, mereka baru menyadari sudah hampir dua jam berbicara.

Alya berdiri dan mengambil tasnya.

“Saya harus pulang.”

Raka ikut berdiri.

“Saya antar.”

“Kamu yakin?”

“Hujannya deras.”

Alya menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

Di dalam mobil, suasananya berbeda.

Lebih tenang.

Lebih dekat.

Lampu kota bergerak seperti garis-garis panjang di balik kaca yang basah oleh hujan.

Alya duduk di sampingnya.

Wangi parfumnya memenuhi kabin.

Raka berusaha tetap fokus ke jalan.

Namun sesekali ia bisa merasakan Alya menatapnya.

“Kamu dulu salah satu murid yang paling sulit ditebak,” kata Alya tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Karena kamu jarang bicara.”

Raka tertawa kecil.

“Banyak yang mau saya bilang sebenarnya.”

“Contohnya?”

Raka terdiam.

Kemudian meliriknya.

“Rahasia.”

Alya tersenyum.

“Sekarang kamu berani punya rahasia dari mantan wali kelas?”

“Mantan wali kelas,” Raka mengulang pelan.

Alya sadar ia menekankan kata itu.

Sekali lagi, suasana menjadi sunyi.

Mobil berhenti di depan rumah Alya.

Namun Alya tidak langsung turun.

Tangannya masih memegang tali tas.

Raka juga tidak berkata apa-apa.

Hujan mengetuk kaca mobil seperti memberikan mereka alasan untuk tetap berada di sana beberapa menit lagi.

“Aneh,” kata Alya akhirnya.

“Apa?”

“Dulu kalau kita duduk berdua seperti ini, pasti saya sedang memarahi kamu karena tidak mengumpulkan tugas.”

Raka tertawa.

“Kalau sekarang?”

Alya menoleh kepadanya.

Tatapannya bertahan lebih lama daripada sebelumnya.

“Sekarang saya bahkan tidak tahu harus bilang apa.”

Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Tetapi ia tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Tidak mencoba menyentuhnya.

Ia hanya berkata,

“Mungkin tidak semua hal harus langsung dikatakan.”

Alya tersenyum kecil.

Kemudian membuka pintu mobil.

Sebelum turun, ia berhenti.

“Raka.”

“Iya?”

“Nomor kamu masih yang tadi?”

Raka mengangguk.

Alya tersenyum.

“Bagus.”

Pintu tertutup.

Raka menatap perempuan itu berjalan menuju rumahnya.

Beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi.

Satu pesan masuk.

Alya: Terima kasih sudah mengantar. Jangan panggil saya Bu lagi.

Raka membaca pesan itu dua kali.

Lalu tersenyum.

Ia baru saja hendak membalas ketika pesan kedua muncul.

Alya: Dan kalau kamu masih menyimpan rahasia dari zaman sekolah… mungkin suatu hari kamu boleh ceritakan.

Raka bersandar di kursinya.

Hujan masih turun.

Namun malam itu terasa jauh lebih hangat daripada beberapa jam sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa pertemuan tersebut mungkin bukan sekadar kebetulan.

Mungkin itu adalah awal dari sesuatu yang selama ini tidak pernah boleh dimulai.

Sesuatu yang hanya bisa terjadi sekarang—

ketika mereka akhirnya bertemu sebagai dua orang dewasa.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *